Rabu, 20 Desember 2017

Memaknai Toleransi dalam Peribadatan

Catatan Anak Sholeh
Memaknai Toleransi dalam Peribadatan

            Sebagai negara yang majemuk, Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang kompleks. Salah satunya adalah masalah toleransi. Banyaknya Interaksi dari masyarakat  yang memiliki latar belakang berbeda, sering kali menghasilkan gesekan-gesekan yang tak diduga. Sebagai contoh gesekan yang tengah terjadi saat ini adalah pemakaian atribut natal yang dipaksakan oleh suatu perusahaan terhadap umat Islam yang bekerja di dalamnya.

            Walaupun kerap dikritik oleh sebagian besar kaum muslimin atas tindakan tersebut, tetapi tetap saja tidak diindahkan. Mereka terus memaksakan kaum muslimin agar berdandan layaknya sinterklas dengan topi merah berjanggut putih panjang. Hal inilah yang membuat sebagian umat muslim geram atas tindakan tersebut. Bagaimana tidak, jika si karyawan tidak melaksanakan sesuai dengan perintah atasannya, maka posisinya terancam dipecat. Tentu semua karyawan tidak ingin kehilangan pekerjaan yang susah payah ia dapatkan. Akhirnya niat untuk menjaga akidah buyar seketika saat jabatan dipertaruhkan.

            Tanggal 25 Desember pun menjadi tanggal yang mendilemakan bagi sebagian kaum muslim. Antara mengiyakan menggunakan atribut natal ataukah menolak. Antara menggadaikan akidah atau mempertahankan akidah. Akhirnya tanggal tersebut menjadi momok yang selalu berulang di setiap tahunnya.           

            Memang patut diakui, pada sebagian kalangan umat muslim sendiri pemahaman mengenai toleransi sangatlah jauh dari kata benar. Mereka menganggap dengan memakai atribut natal dan mengatakan salam, merupakan bentuk toleransi antar umat beragama. Padahal sudah sangat jelas banyak dari para ulama terdahulu maupun kontemporer mengharamkan atas tindakan tersebut.

            Adanya sebagian umat muslim yang mengenakan atribut natal, tidak bisa menjadi sumber kebenaran bagi sebagian yang lain. Karena sumber kebenaran bukanlah realitas di lapangan. Melainkan yang sudah menjadi nilai dan hukum dari sebuah kitab suci yang dijadikan pegangan. Maka dengan menjadikan al-Quran sebagai standar perbuatan sajalah makna toleransi peribadatan bisa diamalkan.

Firman Allah Swt
            Dalam al-Quran Allah Swt berfirman, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS al-Kafirun: 6). Dalam ayat tersebut banyak sekali orang-orang yang salah menafsirkan dan mengaplikasikannya. Mereka anggap dengan pernyataan dalam ayat tersebut, menandakan umat agama lain boleh berlaku bebas sebebas-bebasnya. Padahal ayat tersebut ditunjukkan untuk kebolehan dalam hal keimanan saja. Artinya manusia boleh memiliki keyakinan lain selain agama Islam. karena di dalam Islam tidak ada paksaan dalam memeluknya.

            Namun selain dari keimanan, umat lain tidak boleh berlaku sewenang-wenang kepada umat Islam. Apalagi memaksakan kaum muslimin untuk sesuai dengan agama mereka. Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Justru umat lain-lah yang idealnya mengikuti syariat Islam. Karena sejarah mencatat Andalusia yang saat ini dikenal dengan nama Spanyol, saat itu terdiri dari tiga agama besar yakni Islam, Nasrani, dan Yahudi, dan mereka hidup dengan berdampingan dan damai. Betapa Islam menunjukkan kerahmatanlilalaminnya saat itu.

            Tapi kini, dengan toleransi yang tidak dimaknai dengan benar dan spesifik, membuat para pengikutnya menjadi buram. Tidak bisa mengukur sejauh mana batas toleransi yang dibenarkan dan diperolehkan. Jelas ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintahan Jokowi-JK.  

Oleh: Budi Santoso
Share This:


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe