Putusan MK; Sambaran Petir Yang Mengiringi Hujan Air Mata Para Orangtua - Catatan Anak Sholeh

Terbaru

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 20 Desember 2017

Putusan MK; Sambaran Petir Yang Mengiringi Hujan Air Mata Para Orangtua



Catatan Anak Sholeh

Putusan MK; Sambaran Petir Yang Mengiringi Hujan Air Mata Para Orangtua 

Oleh : Muhamad Lutfi, Muslim Circle Analayze

Kehidupan sekular kapitalistik membawa tantangan tersendiri dalam proses pembentukan karakter anak. Revolusi informasi yang berawal dari munculnya teknologi mesin percetakan yang diprakarsai oleh John Gutenberg pasca abad 15, sukses menelurkan ribuan ton kertas perhari untuk dibuat menjadi buku, majalah dan koran.

Revolusi informasi ini tak terhenti hanya pada media cetak. Berkembangnya zaman dan teknologi yang begitu pesat melahirkan radio, televisi dan internet telah membuat informasi bebas berterbangan tanpa batas. Hal ini tentu salah satu realitas baru bagi para orang tua yang bisa melahirkan dulaisme: anak bisa lebih “bertaqwa” karena banyak informasi atau malah mabuk dan teracuni informasi.

Era digital pun begitu cepat mempengaruhi pola pikiran anak. Kondisi yang dihadapi anak menjadi sangat kompleks dan berat. Kemewahan dan kesenangan semu lebih menarik bagi anak dibandingkan memikul beban idielisme yang berat dan penuh penderitaan sebagai bentuk pengorbanan dari harga yang harus dibayar dalam menapaki jalan terjal perjuangan.

Pada usia anak yang sudah mulai memiliki keinginan sendiri serta memutuskan jalan hidupnya sendiri, tak jarang orang tua dibuat pusing. Orang tua kerap berhadapan dengan berbagai keinginan anak yang tidak sesuai harapannya. Masalah menentukan cita-cita, memilih penampilan, memilih kegiatan di sela-sela waktu senggangnya, memilih jurusan atau lembaga pendidikan tertentu serta dalam pergaulan dan lain sebagainya adalah beberapa contoh yang membuat orangtua was-was; khawatir anaknya salah memilih jalan, tersesat dalam lembah kehinaan.

Disini orangtua membutuhkan instrumen lain dalam membantunya untuk mendidik anak, agar menjadi anak yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Negara sebagai regulator haruslah mampu menjamin masa depan setiap anak bangsanya dengan menerapkan aturan-aturan yang benar, agar setiap anak dapat terhindar dari racun-racun berbahaya yang mengintainya.

Harapan Orang Tua & Putusan MK


Tak ada orangtua yang menghendaki anaknya jatuh pada kehinaan. Orangtua yang sudah terbiasa hidup dalam nuansa ketaqwaan, misalnya, tentu menghendaki anaknya hidup dalam nuansa yang sama, bahkan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Semua orangtua pun menghendaki masa depan anaknya lebih baik, baik secara kepribadian (Syakhsiyah) maupum materi (madiyah). Semua itu adalah perkara yang lumrah, bahkan harus dipelihara agar orangtua senantiasa bertanggung jawab atas amanah mendidik anak.

Namun, pada kamis (14/12/2017) lalu, drama telah terajdi saat permohonan judical review ayat 1 sampai 5 pasal 284 KUHP tentang perzinaan, pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan, dan pasal 292 KUHP tentang homoseksual lantaran dianggap mengancam ketahan keluarga, yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti dan sejumlah orang lainnya di tolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Dalam pertimbangannya, hakim memutuskan menyatakan ketentuan tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Keputusan MK ini tidak bulat. Ada empat orang hakim MK yang memberi pendapat berbeda (dissenting opinion) termasuk ketua MK Arief Hidayat,  dan tiga hakim MK lain yakni Anwar Usman, Wahidudin Adams, dan Aswanto. Empat hakim itu menyatakan ketentuan tersebut bertentangan dengan UUD1945 dan tidak mendasarkan pada norma agama dan sinar ketuhanan. (Portal-Islam.id)

Drama hujan air mata mewarna detik-detik ketika Judicial Review Delik Delik Kesusilaan terkait Perzinahan, Perkosaan dan LGBT ditolak oleh 5 Hakim MK. Dan diperjuangkan oleh 4 Hakim MK lainnya. Yang berakhir pada putusan bahwa judical review tersebut ditolak, sehingga praktek Kumpul Kebo dan LGBT tidak bisa dipidanakan.

Para pemohon menangis karena memikirkan bagaimana beratnya keluarga Indonesia, mendidik dan menyelamatkan anak-anaknya/keluarganya untuk menjadi anak-anak/keluarga yang memegang konsep moral yang baik. Mereka yang selama ini tidak hanya memikirkan keluarganya, tapi juga keluarga bangsa ini. Mereka yang selama ini mendampingi keluarga-keluarga yang anggota keluarganya memiliki permaslahan dengan LGBT, perzinahan, perkosaan dll.

Tentu hujan air mata dari jutaan orangtua di seluruh pelosok negeri ini jauh lebih lebat dan deras, pasalnya putusan ini ibarat petir yang menyambar dedauan di ranting pohon yang dirawat dan diberi pupuk oleh pemilik kebun, sehingga mengakibatkan kerusakan pada pertumbuhan pohon tersebut.

Dengan adanya putusan MK ini, tentu ibarat angin segar yang berhembus dan memberi kesejukan bagi para aktivis kemaksiatan, terutama LGBT. Terlebih arus opini tentang praktek LGBT & Kumpul Kebo semakin masif bahkan nyaris tak terbendung. Mereka semakin liar dan berani memamerkan aktivitas kemaksiatan secara vulgar terutama di media sosial.

Ini semakin membuat para orangtua khawatir akan keberlangsungan hidup buah hati mereka, sebab di era digital hari ini, mereka kembali disuguhkan “Tayangan Setan” baru yakni LGBT, tanpa takut ada yang melarang apatah lagi menghentikan aktivitas mereka, karena putusan MK membuat negara seolah membiarkan bahkan tak berdaya meski hanya sebatas untuk melarangnya.

Tetapi perjuangan belumlah usai.

“Kami tentu sedih karena kami berharap banyak ini lembaga yang memang kami harapkan karena kami bergerak dari masyarakat dari level bawah mengetahui besarnya masalah ini di lapangan. Kami tahu magnitude persoalan ini sedemikian rupa. Kami tetap akan berjuang lewat jalur yang akan kami perjuangkan,” ucap Euis seusai sidang pengucapan putusan di gedung MK, Jalan Merdeka Barat, Kamis (14/12/2017), seperti dikutip detikcom.

Pernyataan Ibu Euis ini, haruslah kemudian disikapi dan didukung oleh segenap warga negara “yang sehat & beradab”. Agar putusan MK dibatalkan, sehingga para pelaku kemaksitan tak akan bebas berkeliaran mengintai anak-anak bangsa yang menjadi sasaran.

Bagikan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here