Rabu, 14 Februari 2018

SAAT DIMANA SEORANG PEJUANG PUN HARUS MENANGIS

SAAT DIMANA SEORANG PEJUANG PUN HARUS MENANGIS

.
Saudaraku, semua yang bernyawa pasti akan mati, termasuk manusia. Semua manusia akan mati, baik muslim maupun kafir. Semua muslim akan mati, entah itu pejuang atau pengkhianat. 
.
Tinggal pilihan kita apakah memilih jalan perjuangan atau diam di sudut pengkhianatan. Bahkan orang yang berdiri di barisan perjuangan pun belum tentu akan mendapatkan balasan surga. Ibnu Jauzi mengisahkan peristiwa yang sangat menarik, 
.
ويروى عن المزني، قال: دخلت على الشافعي رضي الله عنه في علته التي مات منها، فقلت له: كيف أصبحت؟ قال: أصبحت في الدنيا راحلا، وللإخوان مفارقا، ولكأس المنيّة شاربا، ولسوء عملي ملاقيا، وعلى الله واردا، فلا أدري: أروحي تصير إلى الجنة فأهنيها، أم إلى النار فأعزيها؟ ثم بكى
.
Ketika Imam Syafi'i sedang sakit menjelang wafat, murid beliau Al Muzani datang menjenguknya lalu bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaan Anda saat ini?"
.
Imam Syafi'i menjawab, "Saya serasa akan meninggalkan dunia, berpisah dengan kawan-kawan, meneguk kematian (ajal berakhir), bertemu dengan amal-amal buruk dan datang menghadap Allah. Aku tidak tahu, apakah nyawaku nanti akan dibawa ke surga sehingga aku harus memberinya ucapan selamat, ataukah akan dibawa ke neraka sehingga aku harus mengucapkan takziyah." Kemudian beliau menangis. (Ibnul Jauzi, Bahrud Dumu, hlm. 25).
.
Selevel Imam Syafi'i saja, seorang imam madzhab, seorang yang digelari Nashirus Sunnah, masih khawatir dengan tempat kembalinya. Padahal kurang apa dengan beliau; ulama rabbani yang telah mengabdikan dirinya kepada Allah untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Lantas bagaimana dengan kita?
.
Ya Allah, ampuni kami atas setiap kelalaian dalam jalan ketaatan dan perjuangan ini. Kadang masih hadir dalam bayangan kami keberatan dan rasa takut pada selain Allah. Bersimpuhlah di keheningan malam, lalu menangislah! Ghafarallahu lana.

Sumber:
 Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat

Share THIS:


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe