Jumat, 02 Februari 2018

Selalu Ikhlas dalam Berdakwah

Catatan Anak Sholeh
Selalu Ikhlas dalam Berdakwah
CATATAN ANAK SHOLEH - Dakwah adalah mengajak dan menyampaikan kebenaran. 
Kebenaran itu berbasis fakta yang ada bukti nyatanya. 
Kalau ada orang mengritik, tapi basisnya bukan fakta, itu bukan dakwah, tapi fitnah. 
Kalau ada yang bicara keras berbasis pada gosip, itu bukan dakwah, tapi provokasi.
Apalagi ada niat lain dibalik itu semua, maka sia sialah apa yang kita tunaikan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah  menyatakan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah amalan yang paling mulia dan afdhal. Dan ini salah satu bagian dari dakwah yang paling penting. Amalan seperti itu dituntut untuk dijadikan sebaik-baik amal sebagaimana disebut dalam ayat,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). 
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, amalan tersebut adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kata Fudhail, jika amalan tersebut itu ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai tuntunan), maka tidak diterima sampai amalan tersebut ikhlas dan benar (sesuai tuntunan). Yang dimaksud amalan yang khalish adalah amalan yang ikhlas karena Allah. Sedangkan yang dimaksud shawab adalah yang sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Majmu’ah Al-Fatawa, 28: 134)
Menarik untuk kita cermati misalnya Imam Nawawi, meskipun umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng. Karya beliau yang begitu masyhur seperti Hadits Arba’in An-Nawawiyah, Riyadhus Sholihin dan Syarh Shahih Muslim. Bahkan kita dapati beliau punya karya dalam berbagai bidang ilmu. Itu semua dilakukan beliau karena hanya ingin meraih ridho Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, bukan ingin pula meraih gelar mentereng atau ingin mendapat balasan dunia semata. Jadi, ikhlas itu begitu penting bagi setiap muslim yang bisa membuat ia terus istiqomah dalam berkarya dan beramal. Begitu pula karena ikhlas, meskipun kita sudah di liang lahat, karya-karya kita akan terus dikenang. Apalagi jika yang kita tinggalkan adalah warisan ilmu agama.
Tidak kita pungkiri, profesi sebagai ustaz atau mubaligh adalah profesi yang sangat luhur. Karena mereka semua juru dakwah dalam menyampaikan kebenaran. Oleh sebab itu setan tidak pernah membiarkan mereka terbebas dari berbagai macam penyakit hati, seperti riya, ujub, bahkan kesombongan. Kualitas keikhlasan pun terkadang bisa naik turun tergantung tebal tipisnya amplop yang di terima, atau tergantung penghargaan orang kepada kita. Maka pantas jika Allah mengingatkan kita agar selalu ikhlas dalam semua amal karena setan tidak akan mampu menipu orang-orang yang ikhlas. Allah subhanahu wata’ala berfirman, 
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
"(Iblis) menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya," (QS. Sad 38: Ayat 82)
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
"kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." (QS. Sad 38: Ayat 83)
Sudah menjadi kewajiban seorang Ustaz atau muballigh untuk menyampaikan cahaya kebenaran islam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, 
يٰقَوْمِ لَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا  ۖ  إِنْ أَجْرِىَ إِلَّا عَلَى الَّذِى فَطَرَنِىٓ  ۚ  أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Hud 11: Ayat 51)
Tapi bukan berarti terlarang jika seorang juru dakwah menerima imbalan dari pekerjaannya, yaa memang itu profesinya, (ulama selisih pendapat tentang ini) tapi dari semua itu wajib dijaga tentang keikhlasannya. Dan ikhlas tidak hanya meliputi juru dakwah saja, tapi kita juga termasuk didalamnya pada setiap amal apa saja yang kita kerjakan demi meraih pahala surga, maka wajib ikhlas. Karena semua amal akan sia sia disisi Allah jika dilakukan tidak ikhlas kecuali hanya mengharap ridho Allah Ta'ala.
Wallahu a'lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
Sumber:
share THIS:


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe