Pengusaha Aljazair Janji Tebus Semua Denda Muslimah Pengguna Cadar di Denmark - Catatan Anak Sholeh

Terbaru

Thursday, March 15, 2018

Pengusaha Aljazair Janji Tebus Semua Denda Muslimah Pengguna Cadar di Denmark

Rachid Nekkaz, membayar denda Muslimah karena menggunakan hijab di negara Eropa (foto ist)
CATATAN ANAK SHOLEH - Kopenhagen, Seorang pebisnis asal Aljazair berjanji bakal membayar semua denda yang dijatuhkan kepada wanita-wanita di Denmark yang mengenakan cadar, demikian Anadolu memberitakan.
Pada 6 Februari lalu pemerintah Denmark mengajukan larangan penggunaan cadar di ruang publik. Namun, peraturan tersebut belum disahkan.
Berbicara kepada Anadolu Agency di depan Gedung Parlemen Denmark, Rasheed Nekkaz mengaku telah menebus denda yang harus dibayar oleh 1538 perempuan dengan kasus yang sama di enam negara. Mereka tersebar di Prancis, Belgia, Swiss, Belanda, Austria dan Jerman.
Nekkaz terkenal karena membayar denda bagi wanita yang mengenakan cadar atau burqa setelah pakaian tersebut dilarang di banyak negara Eropa, termasuk Prancis, pada tahun 2010 silam.
Pebisnis Aljazair dan aktivis politik mengumpulkan dana satu juta euro untuk membayar denda ini. "Pemerintah di Eropa tidak menghasilkan solusi bagi umat Islam untuk beradaptasi dengan Eropa, itulah sebabnya mengapa masyarakat Muslim di Eropa perlu lebih kuat untuk melindungi kepentingan mereka," katanya.
"Sangat penting bagi saya untuk dapat memberi pesan kepada pemerintah Eropa karena membatasi kebebasan sehingga mereka tidak dapat melakukan apapun yang mereka inginkan," imbuh Nekkaz.
"Jika ada larangan berjilbab di sebuah negara pada mereka yang ingin memakainya, saya akan menjadi orang yang membayar denda mereka," tambahnya.
Nekkaz mengatakan bahwa sebelum Denmark, dia melakukan perjalanan ke Iran untuk mendukung kebebasan 29 wanita yang ditangkap pada tanggal 8 Maret karena menolak mengenakan jilbab pada Hari Perempuan Internasional.
"Alasan saya disini bukan untuk membela agama, tapi untuk membela kebebasan. Prinsip kebebasan adalah hak universal," kata dia. "Jadi saya membela kebebasan mereka yang ingin memakai jilbab di Eropa" Nekkaz berujar, bahwa pemerintah Denmark seharusnya memahami bahwa para wanita mengenakan kerudung dengan kehendak bebas mereka sendiri.

Larangan cadar membatasi kebebasan

Pada sebuah demonstrasi di parlemen Denmark, Sara, seorang wanita Turki berusia 30 tahun, menatakan kepada Anadolu Agency bahwa larangan kerudung tersebut akan membatasi kebebasannya.
Saat dia memakai jilbab, Sara mengatakan, larangan tersebut akan mencegahnya pergi ke luar. Dia menambahkan bahwa di antara 5,7 juta penduduk Denmark, hanya sekitar 50 wanita yang mengenakan jilbab.
Sara pun menuding bahwa larangan cadar akan menjadi awal dari larangan-larangan lain yang menargetkan kaum muslim. "Pertanyaan saya kepada politisi Denmark adalah: Anda berbicara tentang kebebasan, tapi di mana kebebasan kami? Di mana kebebasan beragama kami?" tanya Sara.

Rachid Nekkaz

 Adalah seorang pengusaha asal Prancis keturunan Aljazair, Rachid Nekkaz, terkenal secara sukarela membayar untuk muslimah-muslimah yang didenda karena penggunaan jilbab mereka.
Pengusaha real estate itu berusaha membela para wanita berhijab bukan karena alasan agama. Menurut pria lulusan Universitas Sorbonne Paris ini, hijab merupakan pilihan dan hak setiap wanita. Aturan yang melarang wanita berhijab sama saja menghina wanita muslim.
Kini Nekkaz sedang memperjuangkan wanita muslim terkait pelarangan burkini di pantai-pantai Perancis. Pria berdarah Arab itu merasa miris dengan munculnya aturan tersebut. Salah satu cara untuk menentangnya sekaligus membela muslimah atas kebebasannya dengan membayarkan denda.
Sumber : Anadolu/posko

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Post Top Ad

close