Kamis, 15 Maret 2018

Said bin Amir, Sang Gubernur yang Bersahaja


CATATAN ANAK SHOLEH - Bogor ,  DKM Masjid Alumni IPB Bogor menggelar kajian Sirah Nabawiyah bersama Ustaz Hepi Andi Bastoni. Kajian yang dilaksanakan bada magrib pada Rabu (14/2) itu mengupas tentang kisah Said bin Amir Al Jumahi yang dikenal sebagai "Sang Gubernur Nan Bersahaja".
Said bin Amir Al Jumahi adalah sahabat Nabi yang menjadi seorang Gubernur di Homs pada masa khalifah Umar. Ia masuk Islam sebelum Perang Khaibar. Silsilah beliau yaitu Said bin Amir bin Hudzaim bin Salman bin Rabiah al Quraisyi al Jumahi.
Kisah ia menemukan cahaya Islam bermula dari peristiwa ketika Said bin Amir melihat Khubaib bin Adi yang disiksa oleh para tokoh Quraisy. Hal itu membuat dirinya tergiring kepada hidayah Allah. Said bin Amir masuk Islam tepatnya setelah Perjanjian Hudaibiyah.
Ia hijrah ke Madinah dan  menemui Rasulullah untuk kemudian hidup bersama Beliau. Dalam perjalanannya, ia ikut beberapa peperangan kemudian.
Di saat Rasulullah wafat, Said bin Amir mendampingi Khalifah Abu Bakar. Pada masa Khalifah Umar pun demikian sehingga dua orang mulia tersebut sangat mengetahui jati diri Said bin Amir. Umar mengetahui bahwa Said bukanlah orang yang pintar menasehati tetapi orang yang mampu menjalankan amanah.
Said bin Amir merupakan pejabat yang bersahaja, di mana saat Umar meminta daftar orang miskin penerima zakat ternyata terdapat nama Sain bin Amir di situ.
Umar kemudian mengirim 1000 dinar kepada  Said. Ia pucat dan menemui istrinya yang mengira Sang Khalifah telah wafat. Akan tetapi Said menjawab “Tidak, tapi lebih dari itu bahwa dunia sudah datang untuk merusak akhiratku.” Akhirnya uang tersebut langsung diinfaqkan oleh Said.
Di saat itu, Umar ingin mengetahui bagaimanakah kepemimpinan Said bin Amir dengan menemui warga Homsh. Kemudian terdapat empat keluhan warga Homsh kepada Umar :
Pertama, Said tidak pernah menemui kami pada pagi hari kecuali siang hari. Kedua, ia tak pernah mau ditemui pada malam hari. Ketiga, setiap bulan,ia tidak menemui kami satu hari. Dan yang terakhir, Wajahnya selalu murung dan sedih hingga membuat orang-orang keluar dari majelisnya
Saat ditemui oleh Umar, bergini jawaban Said bin Amir menanggapi empat keluhan tersebut;
Yang pertama, ”Kami tidak punya pembantu sehingga Setiap pagi aku membuat adonan roti dan menunggu hingga matang kemudian membagikannya kepada keluarga lalu aku berwudhu dan baru aku keluar untuk menemui warga.”
Kedua, "Aku telah memberikan siangku untuk mereka dan malamku aku jadikan untuk Allah."
Ketiga, "Aku tidak mempunyai pembantu, Ya Amirul Mukminin. Aku tidak mempunyai sehelai kain pun kecuali yang aku kenakan ini. Aku harus mencucinya setiap bulan dan menungguinya hingga kering untuk dipakai kembali. Setelah itu,aku keluar untuk menemui mereka di sore hari."
Dan yang keempat, "Dulu aku melihat kematian Khubaib bin Adi di saat aku masih musyrik. Aku melihat kaum Quraisy meotong-motong tubuhnya dan mereka berkata ,”Relakah kau jika Muhammad bin Abdullah menempati posisimu?, Khubaib menjawab, ”Demi Allah aku tidak rela jika aku selamat untuk keluarga dan anak-anakku sedang Muhammad ditusuk duri”
Mendengar jawaban Said, seketika itu Umar langsung menanggapinya, ”Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya”. 
Mudah-mudahan Allah meridhoi Said bin Amir al Jumahi, karena ia termasuk orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain atas dirinya meskipun dirinya sangat membutuhkan.
Sumber:
www.suara-islam.com


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe