Sabtu, 10 Maret 2018

Solusi Tuntas Kemacetan di Kawasan Cibiru, Islam Jawabannya!


Kemacetan di Jalan Raya Cibiru hingga Cileunyi, Kabupaten Bandung yang terjadi setiap hari pada jam-jam sibuk memang menimbulkan pertanyaan oleh sebagian besar pengguna jalan. Kemana pemerintah selama ini? Adakah solusi jangka panjang yang ditawarkan oleh pemerintah untuk mengatasi kemacetan di ruas jalan ini?
    
Berdasarkan pantauan, jalur yang menjadi akses utama keluar masuk Kota Bandung tersebut selalu menimbulkan kepadatan kendaraan. Hal tersebut terlihat dari antrean kendaraan yang mengekor hingga 2 kilometer. Salah seorang pengendara asal Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Nana Suryana (32), mengatakan bahwa dirinya sudah jengkel dengan kondisi lalu lintas di jalur tersebut yang tidak pernah mengalami perubahan membaik, melainkan semakin bertambah parah. Seperti ada indikasi pembiaran terhadap kemacetan yang kian hari bertambah parah. Ia mengatakan bahwa dirinya khawatir lambat laun akan bertambah parah. Mengingat jalur tersebut adalah jalur utama dari Kota Bandung menuju Kabupaten Bandung atau sebaliknya.
Sementara, Kepala Polisi Sektor (Polsek) Panyileukan, Kompol Sudewo mengatakan, kemacetan yang terjadi di jalur ini sangat kompleks. Hal ini terlihat dari volume kendaraan yang setiap hari bertambah dan tidak pernah ada perluasan jalan, maka kemacetan pun tak terhindarkan. Belum lagi ruas jalan yang sempit. Jalur ini pun melewati 5 sekolah dasar, di mana banyak murid berlalu-lalang untuk menyebrang. Ditambah juga dengan supir angkutan umum yang berhenti sembarangan. Polisi Lalu Lintas akhirnya hanya bisa menyiasati rekayasa lalu lintas pada jam-jam sibuk tersebut untuk mengurai kemacetan. (jabar.pojoksatu.id, 2017). Namun, sampai kapan kemacetan parah ini akan terjadi?

Rencana Cibiru Underpass Hanya Wacana

    
Kemacetan parah yang terjadi setiap hari di jalur Cibiru ini tentunya harus dapat diatasi oleh pemerintah. Solusi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah solusi jangka panjang yang tuntas dan permanen, sehingga masyarakat tidak akan terhambat lagi dalam melakukan aktivitasnya. 
    
Solusi atas kemacetan di jalur Cibiru ini memang pernah disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, atau yang biasa disapa Kang Emil, mengingat jalur Cibiru ini masih termasuk ke wilayah Kota Bandung. Proyek ini adalah salah satu dari proyek pemerintah yang didanai dari APBN, termasuk juga dalam proyek pembangunan infrastruktur besar di Bandung, yaitu Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR), yang termasuk di dalamnya pengerjaan proyek underpass Bundaran Cibiru. Sebenarnya, proyek ini sudah disepakati sejak 2015 lalu, dan akan mulai dikerjakan pada tahun 2016 (jabar.pojoksatu.id/2015)
    
Namun, faktanya hingga tahun 2018 semester awal ini belum ada tanda-tanda dimulainya proyek besar tersebut. Kang Emil mengungkapkan bahwasanya Pemerintah Kota Bandung belum bisa merealisasikan underpass Cibiru ini karena terkendala masalah dana dari pemerintah pusat (prfmnews.com, 2017).

Pemerintah Mesti Amanah

    
Meski proyek underpass Cibiru ini merupakan wewenang wilayah Pemkot Bandung, tetapi bukan berarti pemerintah pusat lepas tangan begitu saja. Hal yang sama pun berlaku pada setiap daerah. Pemerintah pusat wajib mengetahui segala permasalahan yang terjadi pada rakyatnya secara mendetil. Pemerintah pusat sudah seharusnya menggelontorkan dana bagi proyek yang akan memberi maslahat kepada rakyatnya, bukannya mempersulit atau malah mengkorupsi secara berjamaah dana APBN tersebut. Toh, APBN selama ini sumbernya dari rakyat, mengapa tidak langsung dikembalikan kepada rakyat. Pemerintah bahkan cenderung abai atau menunda pekerjaan yang justru sangat dibutuhkan oleh masyarakat. 
    
Ini mengindikasikan pemerintah memang tidak amanah dan kerja setengah-setengah. Banyak proyek infrastruktur yang mangkrak, bahkan ada proyek yang tidak terlalu mendesak untuk dikerjakan seperti mega proyek Hambalang yang pendanaannya dikorupsi dan sangat merugikan negara trilyunan rupiah. 
    
Sifat amanah pemerintah ini akan sulit ditemukan selama masih menerapkan kebijakan di sistem demokrasi. Kepentingan pribadi dan para pemilik modal (kapitalis) di belakang mereka yang akan lebih didahulukan, dan bukan kepentingan rakyat. Buktinya, masalah kemacetan saja tidak pernah terselesaikan di kota-kota padat dan besar.

Islam Solusi Tuntas Mengatasi Kemacetan

    
Kebobrokan sistem demokrasi yang rusak dan merusak hanya akan memunculkan pimpinan dan wakil rakyat yang tidak amanah. Dari demokrasi itulah peluang untuk berbuat maksiat terbuka lebar. Rakyat hanya menjadi korban keserakahan mereka. 

Rencana proyek underpass Cibiru untuk menyelesaikan kemacetan memang ide yang brilian dari pakarnya. Namun, proyek brilian tersebut tidak akan berjalan tanpa persetujuan serta kucuran dana dari pemerintah yang tidak amanah dan tidak peduli dengan rakyatnya. Apalagi tahun ini akan memasuki tahun politik dimana pesta demokrasi akan dihelat. Tentu saja, calon pemimpin daerah sudah sibuk mengatur strategi pemenangan dirinya di pemilu nanti. Jadi siapa yang peduli jalanan masih macet atau tidak. 
Hal ini tidak akan terjadi di dalam Sistem Islam. Mengapa? Karena dalam Sistem Islam, pemimpin akan senantiasa tunduk dengan syariat. Ia akan selalu teringat dengan hadits ini: “
“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (Muttafaqun alayh)
Oleh karena itu, pemimpin dalam Sistem Islam akan senantiasa berbuat baik kepada rakyatnya, yaitu menomorsatukan kepentingan umatnya dibandingkan kepentingan diri sendiri dengan menyediakan segala sarana dan prasarana bagi kehidupan di negeri yang dipimpinnya. Kalau pun ia lalai, maka sudah sepatutnya umat melakukan amar ma’ruf nahi munkar. 
Pemimpin manapun seharusnya teringat perkataan Sayyidina Umar bin Khathab ra, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’”. Sosok Umar sebagai pemimpin adil dan amanah sangat mengkhawatirkan jika seekor keledai terperosok ke dalam lubang. Apa kabar hari ini di Indonesia? Kemacetan hanyalah satu permasalahan di kota-kota besar. Bagaimana dengan permasalahan lain yang lebih pelik dan mendzalimi umat? Apakah pemerintah tidak takut akan hadits Rasulullah saw. di atas?
Oleh karena itulah, kemacetan akan bisa terselesaikan dengan menerapkan Islam sebagai sistem atau aturan dalam setiap aspek kehidupan, sebagai solusi jangka panjang dunia dan akhirat. Wallahua’lam bishshawab
Ariefdhianty Vibie H.
Pengamat Sosial dan Politik di Bandung
Sumber:
www.suara-islam.com


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe