Kamis, 22 Maret 2018

Terima Kasih, Pak Kyai!

KH Hasan Abdullah Sahal
CATATAN ANAK SHOLEH - Pesantren berdiri berabad-abad untuk membentengi bangsa Indonesia, untuk membentengi umat Islam dari pengaruh-pengaruh kekafiran, dan dari pengaruh-pengaruh penjajah dan penjajahan. Maka, kalau ada Kyai yang tidak antipenjajah dan penjajahan, itu Kyai palsu. Kalau santri, ada santri tidak antipenjajahan, itu santri palsu. Kalau ada pesantren tidak anti penjajahan, itu pesantren palsu."
"Kita ini sedang dijajah Nak! Sedang dijajah, dan akan dijajah kembali, Subhanallah. Dengan caranya masing-masing oleh kaum lan tardho. Saya datang ke sini silaturahim, silatul a'mal, silatul aro, silatul informasi, bukan silatul sepatu biru gak bisa apa-apa, blue shoes can't."
(KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo,Republika.co.id, 17/3/2018)
Video ceramah KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, pada Milad ke-50 Pondok Pesantren Daar el Qolam mendadak viral di linimasa. Dalam video itu, Kyai sepuh kharismatik ini sebenarnya menyoroti soal maraknya LGBT dan penjajahan. Video itu menjadi viral sebab candaan Kyai Hasan soal “sepatu biru tidak bisa apa-apa, blue shoes can't”
Istilah blusukan yang disampaikan dalam bahasa Inggris “blue shoes can’t” membuat heboh netizen. Sindiran Kyai Hasan tersebut mungkin hanya candaan semata, tapi amat tepat jika dikaitkan dengan fakta zaman now. Di mana “blue shoes can’t” menjadi tren bagi para calon pemimpin daerah bahkan calon kandidat presiden untuk meningkatkan citra diri dan rekayasa branding lewat politik pencitraan.
Tahun 2018 memang menjadi tahun panas politik, di mana ajang pilkada serentak dan pendaftaran calon presiden dan wakilnya digelar. Tak sedikit calon pimpinan daerah dan para kandidat yang digadang-gadang menjadi calon presiden oleh partainya berubah mendadak religius di tahun panas politik ini. Dan menjadi rahasia publik pondok pesantren pun menjadi sasaran untuk menjaring pundi-pundi suara. 
Seperti diberitakan inews.id, 6/3/2018, calon Gubernur Sumatera Utara nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat, melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Darul Ikhlas H Abdul Manaf Siregar yang ada di Jalan HT Rizal Nurdin, Padangsidimpuan. Dalam kunjungannya, mantan Gubernur DKI Jakarta ini memantau sejumlah fasilitas yang ada di Yayasan Pondok Pesantren Darul Ikhlas seperti kolam renang, ruang belajar, ruang makan, dan sejumlah fasilitas lainnya. Sebelumnya Djarot juga mendatangi Yayasan Syeikh Salman Da’im yang berlokasi di Huta I Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun (tribunnews.com, 28/2/2018).
Ya, pondok pesantren jadi target pencitraan dan rekaya branding bagi para calon pimpinan daerah dan calon presiden/wakil presiden. Tren ini meningkat seiring semakin dekatnya pilkada dan pilpres. Bahkan ada calon kandidat presiden yang jauh-jauh hari rutin mendatangi banyak pondok pesantren, melakukan ceramah bahkan menawarkan kerja sama.
Patutlah kita merenungi apa yang telah disampaikan oleh Kyai Hasan Abdullah Sahal, bahwa sejatinya pesantren harus menjadi benteng bagi umat terhadap penjajahan. Garda terdepan dalam melawan kezaliman. Maka patutlah kita waspada terhadap setiap pencitraan semu yang berujung pada kekecewaan umat terhadap para pemimpinnya. 
Terutama kepada para ulama yang merupakan teladan bagi umat ini. Jangan sampai salah dalam mendukung calon pemimpin yang hanya bermanis muka di hadapan umat, ternyata di belakang umat menjadi agen-agen penjajah bagi para kapitalis asing, aseng dan asong. Karena sikap ulama akan diikuti oleh santri dan umat.
Kepada para santri tetaplah militansi dalam memegang bara kebenaran Islam. Jangan ikuti langkah ulama su’ yang memecah belah umat dan mendukung pemimpin zalim. Dukunglah para ulama yang menjadi pemersatu umat dan penjelas antara yang haq dan bathil.
Kepada para pengasuh pondok pesantren tetaplah lurus di jalan Islam. Berpihak pada para pemimpin yang hanif, yang melindungi hak-hak rakyat, dan yang mau menerapkan Islam secara kaaffah di tengah umat. Jangan terbuai dengan tawaran kerja sama yang berujung pada materi duniawi yang tak mengantarkanmu pada ridha dan surga-Nya. 
Dan kepada Pak Kyai Hasan, terima kasih. Berkat ceramah Pak Kyai yang viral, umat semakin tercerahkan. Terima kasih, telah menjadi penjelas antara yang haq dan yang bathil. Terima kasih karena ‘Blue shoes can’t” Anda yang fenomenal, semoga umat tak “terblusuk” calon pemimpin yang salah. Wallahu’alam.
Ummu Naflah
Muslimah Bela Islam, tinggal di Tangerang
Sumber:
www.suara-islam.com


EmoticonEmoticon

bawah artikel

New Update

Subcribe