Kamis, 19 Juli 2018

Inilah Standar Memilih Pasangan Hidup Menurut Syeikh Yusuf Qardhawi


CATATAN ANAK SHOLEH - Banyak alasan dari masyarakat saat ini, ketika datang seorang pemuda yang ingin melamar anak perempuannya, mereka menolaknya. Mengapa? Ada yang mengatakan, karena dia berasal dari keluarga ini dan bukan keluarga itu, atau dari kalangan ini dan bukan dari kalangan itu, atau karena begini dan begitu. Suatu standar yang tidak pernah diturunkan oleh Allah.

Dalam setiap masa ada standarnya. Sebagian fuqaha’ pada masa itu ada yang mengatakan bahwa kafa’ah (kesesuaian) itu terdapat dalam nasab, harta, profesi, dan lainnya. Akan tetapi, sebagai fuqaha’ lainnya ada yang menolak syarat ini semua dan berkata, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” Jadi ukurannya adalah agama dan akhlak. Nabi menegaskan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” Inilah ciri orang beriman dan inilah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan.

Diantara fuqaha’ ada yang mengatakan bahwa orang alim (berilmu) itu kufu’ (sesuai) dengan anak raja, karena ilmu mengangkat derajat pemiliknya dan memuliakannya. Apabila kita menjadikan ukuran kesesuaian pada nasab dan harta, maka berarti kita telah menjadi seperti orang-orang India yang hidup berkasta-kasta, yang mana tidak ada seorang pun yang dapat berpindah kasta. Islam menolak sistem kasta ini.

Dalam masyarakat muslim, seseorang bisa naik derajatnya dengan ilmu dan amalnya. Dan, inilah yang kita lihat sejak masa sahabat.

Atha’ bin Abu Rabah, seorang fakih dari kalangan tabi’in adalah seorang berkulit hitam, hidungnya nyeper, kakinya pincang, dan postur tubuhnya pendek, akan tetapi dia bisa duduk berdampingan dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ketika melaksanakan ibadah hajidan berfatwa tentang manasik haji kepada semua orang. Mereka berkata, “Ilmu telah mengangkat derajatnya.”

Kita perlu meninjau kembali standar kita dalam menetapkan kafa’ah dalam pernikahan, “Yang penting adalah anak-anak kita bahagia. Kita tidak perlu mengambil standar lama, karena zaman telah berubah, kehidupan semakin berkembang, dan pola pandang pasti telah berbeda.” Padahal Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yan sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur:32).

Kita harus meninjau kembali pola pandang lama, sehingga kita tidak terpaku kepada standar, “Yang penting anak kita bahagia di dunia.”

Ada beberapa faktor psikologis yang harus diperhatikan pada sebagian remaja putra, termasuk pada remaja putri itu sendiri. Sebagian remaja ada yang berhayal mendapat wanita ideal yang didambakannya untuk dijadikan istrinya. Dia menghayalkannya dengan kecantikan yang memukau dan sempurna. Akan tetapi, tidak ada dalam kenyataan. Dalam kehidupan jarang sekali kita dapatkan kesempurnaan yang mutlak. Sebagian wanita ada yang hanya cantik, atau hanya kaya atau hanya berasal dari keturunan yang baik. sedangkan wanita yang memiliki semua itu jarang sekali kita dapatkan. Karena itu, Nabi mewasiatkan kepada kita dalam sabdanya, “Nikahilah wanita karena empat hal..” (Hadits).

Wanita yang agamis harus lebih dulu di dahulukan, yaitu yang apabila engkau melihatnya dia membuatmu senang, dan jika engkau menyuruhnya dia menaatimu, serta dia menjaga dirinya ketika engkau pergi, dan takut kepada Allah dalam menjaga kehormatanmu, anak-anakmu, dan hartamu.

Allah berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisaa’: 34). Banyak orang yang menciptakan impian-impian yang terlalu tinggi dan idealis, akan tetapi sedikit dari mereka yang dapat mewujudkannya dan berhasil.

Tidak ada gunanya hayalan-hayalan dan sikap berlebihan seperti itu. Seorang remaja putra hendaknya memilih remaja putri yang agamis dan mencari wanita shalehah yang menjaga dan melindunginya, serta hidup bahagia bersamanya. Tidak peduli apakah dari segi materi dia miskin, apabila ida memang kaya akhlak. Dalam hadits dari Aisyah dinyatakan, “Nikahilah wanita, maka akan datang harta kepadamu.”

Ketika Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dirumahnya tidak ada lampu listrik, juga tidak ada mesin cuci otomatis, dan tidak ada vacuk celaner. Dia menyapu rumah dengan tangannya, memutar penggiling dengan tangannya karena tidak punya mesin penggiling. Mereka mengambil gandum dan mengelilingnya di atas penggiling batu hingga menjadi tepung yang halus, mengadonnya menjadi roti. Dia memikul air diatas pundaknya hingga membekas di tangannya.

Pernah pada suatu ketika dia dan suaminya pergi kepada Nabi mengadukan keadaannya dengan harapan beliau memberinya pembantu, akan tetapi Rasulullah bersabda kepada keduanya, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pembantu bagi kalian berdua? Jika kalian telah kembali ke tempat tidur kalian dan kalian mau tidur, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Beliau menasihati keduanya agar mengobati rasa penat dan letihnya dengan kekuatan spiritual, yaitu berdzikir kepada Allah, dan beliau tidak memberinya seorang pembantu.

Mengapa wanita muslimah menginginkan kehidupan bermewah? Alangkah indahnya jika dia sendiri dapat membantu kesibukan suaminya, mengerjakan sendiri tugas-tugas dirumahnya, dan berjuang bersamanya menegakkan pilar-pilar rumah tangga hingga mencapai derajat tinggi?

Mengapa wanita muslimah dari awal menginginkan laki-laki kaya harta? Wallahu a’lam, apakah harta ini berasal dari yang halal atau haram?

Wanita muslimah hendaknya memulai tangga pertama dari impian-impiannya bersama suaminya, hidup bersamanya dalma perjuangan, sebagaimana wanita-wanita muslimah di masa awal Islam, seperti Fatimah Az-Zahra’, Asma’ pemilik dua selendang, dan para sahabat wanita lainnya [syahida.com]

Sumber : Kitab Wanita dalam Fiqih, DR Yusuf Qardhawi
Dalam setiap masa ada standarnya. Sebagian fuqaha’ pada masa itu ada yang mengatakan bahwa kafa’ah (kesesuaian) itu terdapat dalam nasab, harta, profesi, dan lainnya. Akan tetapi, sebagai fuqaha’ lainnya ada yang menolak syarat ini semua dan berkata, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” Jadi ukurannya adalah agama dan akhlak. Nabi menegaskan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” Inilah ciri orang beriman dan inilah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan.
Diantara fuqaha’ ada yang mengatakan bahwa orang alim (berilmu) itu kufu’ (sesuai) dengan anak raja, karena ilmu mengangkat derajat pemiliknya dan memuliakannya. Apabila kita menjadikan ukuran kesesuaian pada nasab dan harta, maka berarti kita telah menjadi seperti orang-orang India yang hidup berkasta-kasta, yang mana tidak ada seorang pun yang dapat berpindah kasta. Islam menolak sistem kasta ini.
Dalam masyarakat muslim, seseorang bisa naik derajatnya dengan ilmu dan amalnya. Dan, inilah yang kita lihat sejak masa sahabat.
Atha’ bin Abu Rabah, seorang fakih dari kalangan tabi’in adalah seorang berkulit hitam, hidungnya nyeper, kakinya pincang, dan postur tubuhnya pendek, akan tetapi dia bisa duduk berdampingan dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ketika melaksanakan ibadah hajidan berfatwa tentang manasik haji kepada semua orang. Mereka berkata, “Ilmu telah mengangkat derajatnya.”
Kita perlu meninjau kembali standar kita dalam menetapkan kafa’ah dalam pernikahan, “Yang penting adalah anak-anak kita bahagia. Kita tidak perlu mengambil standar lama, karena zaman telah berubah, kehidupan semakin berkembang, dan pola pandang pasti telah berbeda.” Padahal Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yan sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur:32).
Kita harus meninjau kembali pola pandang lama, sehingga kita tidak terpaku kepada standar, “Yang penting anak kita bahagia di dunia.”
Ada beberapa faktor psikologis yang harus diperhatikan pada sebagian remaja putra, termasuk pada remaja putri itu sendiri. Sebagian remaja ada yang berhayal mendapat wanita ideal yang didambakannya untuk dijadikan istrinya. Dia menghayalkannya dengan kecantikan yang memukau dan sempurna. Akan tetapi, tidak ada dalam kenyataan. Dalam kehidupan jarang sekali kita dapatkan kesempurnaan yang mutlak. Sebagian wanita ada yang hanya cantik, atau hanya kaya atau hanya berasal dari keturunan yang baik. sedangkan wanita yang memiliki semua itu jarang sekali kita dapatkan. Karena itu, Nabi mewasiatkan kepada kita dalam sabdanya, “Nikahilah wanita karena empat hal..” (Hadits).
Wanita yang agamis harus lebih dulu di dahulukan, yaitu yang apabila engkau melihatnya dia membuatmu senang, dan jika engkau menyuruhnya dia menaatimu, serta dia menjaga dirinya ketika engkau pergi, dan takut kepada Allah dalam menjaga kehormatanmu, anak-anakmu, dan hartamu.
Allah berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”(An-Nisaa’: 34). Banyak orang yang menciptakan impian-impian yang terlalu tinggi dan idealis, akan tetapi sedikit dari mereka yang dapat mewujudkannya dan berhasil.
Tidak ada gunanya hayalan-hayalan dan sikap berlebihan seperti itu. Seorang remaja putra hendaknya memilih remaja putri yang agamis dan mencari wanita shalehah yang menjaga dan melindunginya, serta hidup bahagia bersamanya. Tidak peduli apakah dari segi materi dia miskin, apabila ida memang kaya akhlak. Dalam hadits dari Aisyah dinyatakan, “Nikahilah wanita, maka akan datang harta kepadamu.”
Ketika Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dirumahnya tidak ada lampu listrik, juga tidak ada mesin cuci otomatis, dan tidak ada vacuk celaner. Dia menyapu rumah dengan tangannya, memutar penggiling dengan tangannya karena tidak punya mesin penggiling. Mereka mengambil gandum dan mengelilingnya di atas penggiling batu hingga menjadi tepung yang halus, mengadonnya menjadi roti. Dia memikul air diatas pundaknya hingga membekas di tangannya.
Pernah pada suatu ketika dia dan suaminya pergi kepada Nabi mengadukan keadaannya dengan harapan beliau memberinya pembantu, akan tetapi Rasulullah bersabda kepada keduanya,“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pembantu bagi kalian berdua? Jika kalian telah kembali ke tempat tidur kalian dan kalian mau tidur, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”
Beliau menasihati keduanya agar mengobati rasa penat dan letihnya dengan kekuatan spiritual, yaitu berdzikir kepada Allah, dan beliau tidak memberinya seorang pembantu.
Mengapa wanita muslimah menginginkan kehidupan bermewah? Alangkah indahnya jika dia sendiri dapat membantu kesibukan suaminya, mengerjakan sendiri tugas-tugas dirumahnya, dan berjuang bersamanya menegakkan pilar-pilar rumah tangga hingga mencapai derajat tinggi?
Mengapa wanita muslimah dari awal menginginkan laki-laki kaya harta? Wallahu a’lam, apakah harta ini berasal dari yang halal atau haram?
Wanita muslimah hendaknya memulai tangga pertama dari impian-impiannya bersama suaminya, hidup bersamanya dalma perjuangan, sebagaimana wanita-wanita muslimah di masa awal Islam, seperti Fatimah Az-Zahra’, Asma’ pemilik dua selendang, dan para sahabat wanita lainnya. [syahida.com]
Sumber : Kitab Wanita dalam Fiqih, DR Yusuf Qardhawi
- See more at: http://www.syahida.com/2014/11/21/711/apa-standar-memilih-pasangan-hidup/#sthash.3XbMjEmT.dpuf
Read More

Mengenalkan Allah Kepada Anak


CATATAN ANAK SHOLEH - Mengenal Allah adalah sebuah proses penting dalam kehidupan manusia. Hanya dengan mengenal Allah seseorang akan mengetahui secara hakiki tujuan kehidupannya. Hanya dengan mengenal Allah seseorang dapat memahami apa yang Allah inginkan terhadap kita sebagai makhluk yang diciptakan-Nya. Hanya dengan mengenal Allah kita bisa memahami hakikat keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hanya dengan proses mengenal Allah yang berbuah keimanan dan ketakwaan, seseorang dapat meraih keberuntungan, kemenangan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Mungkin kita adalah seseorang yang termasuk terlambat dalam memulai proses mengenal Allah. Sementara kita berharap dapat melahirkan generasi yang jauh lebih baik dari kita khususnya dalam hal mengenal Allah. Maka muncullah kebingungan bagaimana kita sebagai orang tua harus mengawali proses mengenalkan Allah kepada anak-anak kita.

Sebelum kita mengenalkan Allah kepada anak-anak, tentunya proses pemahaman itu harus diawali dadi diri kita. Kita harus terus belajar mengenai konsep ketuhanan dan bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehingga mampu melahirkan kepribadian diri yang memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang baik.

Menggali dari berbagai literatur, beberapa point konsep ketuhanan yang perlu diketahui anak-anak adalah:
1. Allah sebagai pencipta
2. Allah sebagai pemberi rezeki
3. Allah sebagai pengatur alam
4. Allah sebagai pemilik
5. Allah sebagai pemimpin
6. Allah sebagai pembuat hukum
7. Allah sebagai pemerintah
8. Allah sebagai satu-satunya yang disembah

Materi diatas tentunya disampaikan secara bertahap sesuai tahapan usia dan dengan pilihan bahasa yang sesuai dengan tahapan kedewasaan mereka. Materi ini bukanlah materi yang disampaikan dalam 8 pertemuan pelajaran, namun materi ini adalah materi yang harus terus kita internalisasikan dalam diri seorang anak sepanjang masa.

Dalam prakteknya, penyampaian materi ini tidak harus selalu disampaikan dengan metode ceramah , konsep ketuhanan dapat kita selipkan diantara kejadian-kejadian sederhana disekitar kita seperti saat mendongeng, saat kunjungan edukasi, outdoor ke alam, saat makan, saat bermain, saat menonton dll, bahkan saat mereka celaka karena terjatuh, misalnya. Tentunya jiwa seorang anak yang terjatuh dan berdarah kemudian dimarahi dan disalahkan orang tuanya, akan berbeda dengan mereka yang celaka kemudian diajak merefleksikan kejadian sebagai tanda kasih sayang Allah yang memberi peringatan dan menggugurkan dosa.

Dalam mengenalkan Allah kepada anak usia dini, beberapa konsep ketuhanan mungkin perlu ditunda atau disederhanakan penyampaiannya.

Dalam tulisan yang berjudul Stategi Pendidikan Agama Sesuai Tahapan Usia Anak, Psikolog Innu Virgiani menyatakan bahwa pada tahap anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang masuk akal. Cerita Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng. Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

Berdasarkan pengalaman penulis, secara bertahap beberapa konsep di bawah ini bisa kita sampaikan dengan bahasa yang sederhana melalui refleksi kejadian di sekitar mereka. Untuk tahap awal point-point materi Mengenal Allah yang bisa disampaikan kepada anak-anak usia dini, diantaranya:

1. Pada fasa gramatikal dimana anak menangkap informasi lebih pada kontekstual bahasa dan belum terlalu banyak mempertanyakan makna dibaliknya maka perbanyaklah mengenalkan kalimat Laa ilaha ha illlah,Tidak ada Tuhan selain Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia" - (Q.S. Al-Baqarah 163).

Apabila menjumpai anak yang kritis dan bertanya Tuhan itu apa, maka kita bisa menjawab dengan bahasa sederhana yang menggambarkan konsep ketuhanan yang disebutkan diatas. Jika anak terus bertanya maka kita bisa mengenalkan lebih dalam lagi tentang sifat-sifat Allah yang dijelaskan dalam Al-quran. Insya Allah akan dibahas lebih mendetail dalam lanjutan artikel ini.

2. Jika menemui anak yang kritis dan bertanya mengapa tuhan hanya ada satu, maka kita bisa menyampaikan sifat Allah selanjutnya yaitu Allah tidak memiliki dan tidak membutuhkan mitra/partner. Jelaskan bahwa jika ada lebih dari satu Tuhan pasti akan terjadi kekacauan. Kita bisa memberikan contoh dari hal yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya, jika ada 2 supir yang mengendalikan satu mobil pasti akan terjadi kekacauan. Jika anak bertanya dari mana kita mengetahuinya, sampaikan bahwa hal tersebut disampaikan Allah dalam Al-quran : "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan".(QS: Al-Anbiyaa Ayat: 22)

3. Dalam kesempatan lain kita bisa mengenalkan Allah dengan diawali diskusi bertema keluarga. Misalnya, tanyakan kepada anak kita siapa nama ibu dan ayah mereka, siapa nama ayah dan ibu dari orang tua mereka, siapa saja nama saudara-saudara mereka dll. Kemudian lanjutkan diskusi ringan pada pembicaraan yang lebih dalam tentang mengenal Allah bahwa Allah tidak memiliki anak dan tidak memiliki orang tua sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran : “Tidak Dia beranak, dan tidak Dia diperanakkan.” (Al-ikhlas ayat 3).

4. Mungkin kita menjumpai anak yang kritis dan bertanya tentang seperti apakah Allah itu. Atau mungkin kita secara sengaja ingin menambah materi pengenalan Allah. Buatlah diskusi ringan di rumah yang diawali dengan bertanya tentang perbedaan wajah setiap orang, perbedaan jenis-jenis hewan lalu masuklah pada pembicaraan yang lebih dalam tentang Allah bahwa Allah yang menciptakan semua makhluk berbeda dari makhluknya dan tidak ada satupun yang menyerupai dan menandingi Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-quran : "... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat" (QS. Asy-Syura : 11)

5. Manfaatkanlah kesempatan emas saat menemui kejadian-kejadian istimewa di sekitar kita. Sebagai contoh mungkin anak kita menemukan binatang yang mati. Bukalah sebuah diskusi sederhana tentang konsep mati atau sudah tidak hidup lagi. Sebutkanlah ciri-ciri sederhana yang tampak kasat mata mereka tentang perbedaan makhluk yang masih hidup dengan yang sudah mati. Sampaikanlah bahwa semua makhluk yang hidup akan mati pada akhirnya, sementara Allah selalu ada, hidup kekal/abadi dan tidak akan mati. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran : "Dialah Yang Awal (tidak berpemulaan) dan Yang Akhir (tidak berkesudahan)... " - (QS. Al-Hadid : 3)

6. Dalam sebuah kesempatan dimana balita kita sedang membutuhkan pertolongan, ajarkan mereka untuk meminta tolong dengan cara yang baik saat mereka tidak mampu menyelesaikan masalah mereka sendirian. Sampaikan bahwa meminta tolong setelah apa yang diusahakan tidak berhasil adalah sesuatu yang wajar bagi setiap orang. Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Lalu masuklah pada materi yang lebih dalam tentang pengenalan Allah. Allah mandiri/tidak membutuhkan bantuan makhluk-Nya, hanya zat lemah yang membutuhkan pertolongan sebagaimana yang disampaikan dalam Al-quran : "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup, yang berdiri sendiri... " - (QS.Al-Baqarah : 255)"

7. Saat kita menemukkan anak kita sulit tidur, ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan Allah. Sampaikanlah bahwa Allah menjadikan malam untuk beristirahat bagi manusia serta menciptakan siang untuk mencari karunia Allah. Semua manusia membutuhkan tidur untuk beristirahat karena yang tidak mengantuk dan tidak tidur hanyalah Allah sebagaimana yang disampaikan dalam Al-quran : "tidak mengantuk dan tidak tidur" (al¬Baqarah(2): 225)

8. Saat kita bersama anak-anak kita melihat sesuatu yang baru atau yang membuat ia merasa tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentangnya, usahakalah untuk selalu menyertakan Allah didalamnya. Sampaikanlah bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu, yaitu semua makhluk, alam semesta serta isinya. Adapun beberapa benda di sekitar mereka yang dibuat oleh manusia, sesungguhnya bahan bakunya berasal dari ciptaan Allah. Ajak anak untuk membedakan mana benda ciptaan Allah secara langsung, mana benda yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia.

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu (Q.S Az-Zumar 62)

9. Ketika kita menemui anak yang sangat kritis bertanya tentang bagaimana wujud Allah, sementara jawaban-jawaban yang secara eksplisit ditulis di dalam Al-quran belum juga memenuhi kepuasan mereka dalam bertanya. Sampaikanlah bahwa kita dapat mengetahui kebesaran Allah dengan hanya melihat tanda-tanda kekuasan-Nya. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Quran bahwa apa yang diciptakan Allah merupakan tanda kesempurnaan dan kekuasaan Allah.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imran 3:190-191)

Ajaklah anak berdiskusi tentang fenomena di sekitar mereka serta bagaimana Allah memberikan manfaat dari setiap penciptaannya. Berikan mereka pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang apa yang akan terjadi jika penciptaan tersebut ditiadakan.

10. Mungkin kita menemui balita yang sangat kritis bertanya mengapa kita tidak bisa melihat Allah. Sampaikanlah bahwa kita bisa memahami keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya meskipun saat ini kita belum bisa melihat Allah. Bagaimana mungkin ada penciptaan jika tidak ada penciptanya. Sehingga meskipun kita saat ini belum bisa melihat Allah kita yakin Allah itu ada dengan segala kebesaran-Nya karena kita dapat melihat buktinya melalui ciptan-Nya. Meskipun begitu, walaupun kita tidak bisa melihat Allah, Allah bisa melihat kita sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Quran : ”Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Hujurat 18)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)

Ingatkanlah mereka untuk senantiasa berbuat kebaikan dimanapun dan kapanpun karena Allah senantiasa melihat kita.

11. Ketika anak bertanya tentang keberadaan Allah janganlah kita menjawab bahwa Allah ada dimana mana meskipun dalam Al-quran Allah berfirman

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.(115)

Penafsiran bahwa Allah ada di mana mana merupakan penafsiran yang salah.

Dalam Q.S As Sajadah ayat 4 :

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

Yaitu Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas Arsy .” (QS. Thoha : 5)

Sehingga saat anak bertanya dimanakah Allah, Allah ber-istiwa/bersemayam diatas Arsy, atau menetap tinggi di atas Arsy.  Arsy secara bahasa artinya singgasana raja namun Arsy yang dimaksud didalam ayat Al-Quran adalah sebuah singgasana milik Allah yang dipikul oleh para malaikat. Namun bersemayamnya Allah tidaklah sama dengan bersemayamnya para raja sebagaimana Allah menegaskan dalam quran bahwa tidak ada satupun yang menyerupai-Nya.

"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Q.S As Syura ayat 11)

12. Ketika anak bertanya bagaimana ia bisa melihat Allah. Sampaikanlah bahwa ada diantara para penghuni surga yang sangat spesial yang mendapat hadiah tambahan yang istimewa yaitu dapat bertemu langsung dengan Allah. sebagaimana disampaikan dalam Al-quran :  “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26)

13. Mungkin kita menemui anak yang sangat kritis bertanya tentang bagaimana Allah membuat ini dan itu. Sampaikanlah bahwa bagi Allah menciptakan sesuatu sangatlah mudah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia" - (QS. Yasin: 82)

14. Jadikanlah kejaidan di sekita mereka sebagai kesempatan mengenalkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan, tidak ada satupun yang sia-sia

Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka "(Qs. Ali Imran 3 : 191).

Demikian beberapa poin pengenalan Allah yang bisa kita mulai pada awal-awal usia anak-anak kita. Konsep yang lebih dalam dapat kita sampaikan di tahapan selanjutnya.

Adapun output yang diharapkan dari pemahaman anak-anak pada tahapan ini adalah sbb:
1. Anak tumbuh dalam suasana yang menghidupkan nama Allah
2. Anak mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah, meskipun pada tahapan ini anak belum mengetahui secara dalam apa makna serta konsekuanesi dibalik pernyataan tersebut
3. Anak senantiasa merasakan kebersamaan Allah dalam kehidupannya melalui proses berdzikir baik secara ayat kauliyah maupun kauniyah
4. Dengan memahami konsep Allah sebagai pencipta diharapkan dapat membentuk kepribadian anak yang senantiasa menjaga, memelihara, dan memanfaatkan semua karunia Allah dengan cara yang baik. Secara bertahap mereka akan memahami bahwa segala sesuatu di sekitar mereka merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita.

Adapun metode yang bisa digunakan dalam mengenalkan Allah pada fasa awal-awal usia mereka diantaranya:
1. Membangun lingkungan yang memberi pengalaman religius bagi anak
2. Memberikan teladan pengamalan agama dan kedekatan kepada Allah didalam rumah
3.
Mengkaitkan sekian banyak pengalaman dan kejadian dengan nilai-nilai Ilahiah dan memperdalam pengenalan mereka akan sifat-sifat Allah
2. Membaca buku cerita yang bernuansa islam sesuai dengan tahapan usianya
3. Membaca kisah nabi yang disajikan dalam buku yang dirancang sesuai dengan tahapan usianya
4. Memperdengarkan ayat-ayat Al-quran dan mengenalkan bahwa Al-quran memuat pesan Allah kepada manusa. Misalnya ketika kita ingin memberi nasihat kepada anak kita, katakanlah "Kata Allah di dalam Al-quran........" Mungkin pada tahap awal redaksi perintah dari quran belum diberikan secara mendetail. Tapi minimal mereka mengetahui bahwa informasi tersebut didapatkan kita dari Al-Quran. Sejalan dengan pertambahan usianya, kita bisa melengkapi diskusi-diskusi kita bersama anak-anak dengan membacakan langsung ayat al-quran beserta artinya.


Kiki Barkiah
Ibu dari 5 anak, homeschooler
Ketua yayasan komunitas Homeschooling Muslim dan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika Batam

Referensi:
Ahammiyattu Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah
Ath-Thariiq ila Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah
Strategi Pendidikan Agama Sesuai Tahapan Usia Anak,Innu Virgiani, P.Si
https://materitarbiyah.wordpress.com/2008/…/15/marifatullah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sifat-sifat_Allah_%28Islam%29
http://quran-terjemah.org/o
Read More

Kamis, 31 Mei 2018

Ramdahan dan Hijrah




"Dan katakanlah, "Ya Rabbku! Masukkan aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku (pula) dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong" (Al-Isra': 80)

Hijrah dalam pengertian bahasa berarti berpindahnya seseorang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Namun bila kita kaji lebih jauh, makna hijrah tidak sekedar aspek fisik dan geografis. Yang lebih dalam dari makna hijrah adalah hijrah dari aspek moralitas, yaitu hijrah ma'nawiyah (konsep, prinsip dan pemahaman).

Bulan Ramadhan adalah momen paling tepat untuk melakukan hijrah ma'nawiyah, yakni melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh, dari kondisi moralitas pra-Ramadhan menuju kondisi moralitas Ramadhan. Intinya setelah Ramadhan ketaqwaan dan nilai-nilai ibadah selama Ramadhan semakin meningkat. Inilah"buah manis taqwa" yang diraih setiap mukmin yang melakukan shaum dengan benar dan sukses (Al-Baqarah: 183). La'allakum tattaquun... itulah yang mestinya senantiasa kita catat dan ingat dalam memori jiwa kita.


Disamping itu "nilai Ramadhan" yang lain juga mesti kita raih yakni, dihapuskannya dosa-dosa yang telah lalu. Man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi... barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah (maka) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu...


Ada beberapa perubahan mendasar yang mestinya dilakukan oleh setiap pribadi muslim, yaitu:

Pertama
, dari syirik menuju tauhid.

Di bulan Ramadhan ini, setiap mukmin harus memantapkan kembali loyalitas (wala')nya kepada Allah, sebagai bukti kesempurnaan tauhidnya (Al-Baqarah: 257; Al-Maidah: 55).

Yakni tiada yang dijadikan ilah (sembahan) kecuali Allah, tiada yang paling dicintai kecuali Allah, tiada yang paling diikuti perintahnya kecuali Allah, tiada yang layak disembah kecuali Allah, meminta pertolonganpun hanya kepada Allah, iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iinu. Komitmen muslim pada kalimat "Laa ilaaha illallahu" ini akan menumbuhkan keberanian, tiada takut masalah rezeki, sikap optimis menghadapi kehidupan dan sikap tepat memandang realitas. Tiada gusar dan ragu untuk berkorban di jalan Allah, tiada bimbang untuk melangkah di atas rel kebenaran. Disamping itu pribadi yang "hijrah" ini juga melepaskan diri (bara') dari segala sesembahan selain Allah, dari segala cinta yang tidak sesuai kehendak Allah (Al-Baqarah: 165; At-Taubah: 24; Ali Imran: 31), baik berupa harta, tahta, manusia, atau apa saja.

Kedua, Hijrah dari kafir menjadi Islam

Kafir disini mengandung pengertian pengingkaran. Sedangkan Islam berarti berserah diri total kepada Allah Azza wa Jalla. Bagi seorang mukmin, bulan Ramadhan harus menjadi sarana tarbiyah dan perbaikan diri, peningkatan prestasi dan amal shalih, bukti penyerahan diri secara total kepada Allah. Barangkali di bulan-bulan sebelumnya banyak "mengingkari" hukum dan ketentuan Allah, maka Ramadhan adalah saat yang tepat untuk bertaubat dan memulai titik awal menjadi pribadi nan fitri... yang berserah diri hanya kehadirat illahi rabbii...

Perubahan totalitas mukmin mencakup perubahan seorang mukmin dari menggunakan konsepsi, pola pikir, cara hidup yang dilandasi kekafiran menuju konsepsi, pola pikir dan cara hidup yang islami, sesuai ketetentuan Allah dan Rasul-Nya.

Buah dari hijrah ini akan dapat dipetik hasilnya selama-lamanya dan setelah Ramadhan berlalu hingga ajal merenggut. Yakni menjadikan Islam sebagai pijakan dalam segenap aktivitasnya. Islam adalah satu-satunya alternatif kehidupan yang paling layak uji, lain tidak.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

"Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (Ali Imran: 85).

Ketiga, Hijrah dari Nifaq menuju Shiddiq

Ciri khas paling mendasar tarbiyah Ramadhan adalah semakin kokohnya sikap dan sifat shiddiq yang mesti ada dalam jiwa mukmin. Untuk itu setiap mukmin harus mampu menghilangkan sikap ragu-ragu dan bimbang terhadap Islam menuju kemantapan untuk berislam beriman secara kaffah serta memperjuangkannya di jalan-Nya. Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian dia tidak ragu dan berjihad dengan hartanya dan jiwanya di jalan Allah. Merekalah orang-orang yang shiddiq (benar-benar imannya)" (Al-Hujurat: 15).

Bukti hijrah dan kesadaran mukmin dengan sikap shiddiqnya adalah senantiasa memohon syahid di jalan Allah bagaimanapun keadaannya, Rasulullah bersabda,

"Barang siapa yang tidak punya niat untuk syahid di jalan Allah, dan dia tidak pernah berjihad, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan" (HR. Muslim).

Disamping itu setiap mukmin, melalui madrasah Ramadhan ini, juga harus selalu menyelaraskan antara hati, lisan, dan perbuatannya dalam kesamaan persepsi, niat, ucapan dan gerak kehidupan.

Satu hal yang penting direnungkan bahwa setiap muslim mestinya hidup secara total dengan aturan Islam yang kaffah, yakni tidak mencampuradukkan Islam pada ibadah-ibadah rutin saja sementara kehidupan memakai pola jahiliyah. Akan tetapi harus menyerahkan bulat-bulat pada ketentuan Allah.

...udkhuluu fis silmi kaafah..., Iyyaaka na'buduu wa iyyaaka nas ta'iinu..., Inna shalaatii wanusukii wa mahyaaya wa mamaati lillaahi Rabbil 'aalamien...

Keempat, Hijrah dari sikap Pengecut (jubnun) menuju Pemberani (syaja'ah)

Di bulan Ramadhan Allah mendidik pribadi mukmin untuk berani menghadapi seluruh rintangan kehidupan, tantangan realitas dan tribulasi yang terbentang di kiri-kanan. Disamping itu pribadi mukmin juga dididik untuk memilih dan meluruskan orientasinya pada jalan Allah meskipun jalan itu berat, terjal, dan berduri.



"Huffatil jannaatu bil makaarihi wa huffatinnaaru bisy syahawaati... dihampari jalan menuju syurga dengan hal-hal yang kita benci dan dihiasi jalan menuju neraka dengan syahwat (yang melalaikan)" (HR. Bukhari).

Orang beriman tak kan lari, menyerah atau berputus asa menghadapi berbagai cobaan hidup. Ia juga tak mudah terpikat oleh gemerlap dunia (Ali Imran: 146; Al-Baqarah: 153-156; Al-Qhashash: 77).

Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa sikap pemberani tidak mempercepat ajal seseorang, sikap pengecut juga tidak akan memperlambat ajal seseorang, karena ajal, rezeki, dan jodoh, semuanya sudah ditentukan oleh Allah. Simaklah kata-kata indah yang lahir dari pribadi pemberani merdeka, dialah Imam Syafi'i Rahimahullah.

"jika aku hidup, aku tidak takut kehilangan makanan dan jika aku mati, aku tidak takut kehilangan kuburan, sesungguhnya jiwaku adalah jiwa yang merdeka yang memandang kelemahan sebagai kekufuran...!"

Inilah yang mestinya diraih dari "hijrah Ramadhan" yang hakiki, sebagaimana firman Allah,

"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman" (Ali Imran: 139).





Kelima, Hijrah dari khianat menjadi amanat

Bagi pribadi mukmin sejati, puasa mengajarinya menjunjung tinggi kejujuran dan amanah, karena dalam puasa hanya dirinya dan Allah yang tahu "rahasia" puasanya. Ia tidak mengandalkan pengawasan orang lain karena ia yakin bahwa Allah menyertai dan mengawasinya setiap saat, setiap waktu dan setiap kesempatan. Tidak mungkin untuk mengelak dari pengawasan Allah.

Sikap minimal seorang mukmin adalah ia tidak membohongi dan menghianati dirinya. Karena kebohongan akan membuka kejahatan-kejahatan lainnya atau membuka kebohongan yang lebih besar. Maka amanat dan kepercayaan Allah mestilah dijaga, dan inilah karakter yang menyempurnakan mukmin. Tanpa kejujuran dan amanah jangan harap iman dan hidayah Allah menyertai dirinya... Mengapa? Karena sikap khianat adalah sikap buruk yang dimurkai Allah dan dibenci oleh manusia, dan termasuk dalam karakter orang-orang munafik. Rasulullah bersabda,

"Aayatul munaafiqi tsalasatsun, idza hadatsa kadzaba, wa idza wa'ada akhlafa wa-idza'tuina khaana... ciri-ciri orang munafik ada tiga: jika berkata bohong (dusta), jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat".

Allah Azza wa Jalla berfirman,

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui" (An-Anfaal: 27)

Contoh sikap amanah adalah sifat al-amin Rasulullah SAW yang menjaga harta orang-orang Quraisy meskipun mereka memusuhi Beliau. Juga sikap Umar bin Abdul Aziz yang tidak memakai "lentera negara" saat berbincang-bincang dengan anaknya dalam urusan pribadi...



dikutip dari:
Materi Ceramah Ramadhan dan Umum
Abu Izzuddin




Read More

bawah artikel

New Update

Subcribe