You are here
Hikmah & Inspirasi 

KISAH MALAM ITU

0leh: Faqih Ahmad (Aktivis BKLDK Kota Bogor)

Malam telah larut dan aku masih terjaga tanpa ditemani secangkir kopi dan segunduk roti. Di tengah keterjagaan ini anehnya tiba-tiba aku bermimpi. Bermimpi ingini malam berguyuran hujan ini menjelma menjadi satu malam yang pernah dilewati Usaid bin Hudhair ra. kala itu di malam itu. Satu malam yang membuktikan betapa mulia derajat dan posisi Usaid bin Hudhair di hadapan penduduk langit.

Malam itu Usaid bin Hudhair duduk di teras rumahnya ditemani Yahya anaknya yang terlelap dan kuda perang miliknya yang tertambat di samping rumahnya yang siap digunakan kapan saja saat seruan jihad memanggil.

Malam itu risalah cinta dari Rabb Semesta Alam tak mampu Ia acuhkan. Usaid bin Hudhair amat mencinta Al-Quran. Hingga bagaimana mungkin Ia sanggup biarkan apa yang Ia cinta begitu saja tanpa sapa tanpa berdua-dua mesra dengannya. Tak satu malam pun mampu Ia lewatkan tanpa bersama yang Ia cinta.

Karenanya, kala itu ditemani putranya yang telelap tak jauh dari kuda yang tenang tertambat, dengan mantap Ia lantunkan Al-Quran di bawah langit malam kota Madinah yang cerah, suasana hening, damai, amat begitu menenangkan.

“Alif laam miim,” Al-Baqarah ayat pertama Ia lantunkan begitu jelas, tegas. Meskipun dibaca dengan lugas namun disitulah letak kelembutan dan keindahan bacaannya. Belum sempat Ia lanjutkan pada ayat-ayat berikutnya, tiba-tiba ada sesuatu yang mengagetkannya. Karena bersamaan dengan bacaan ayat pertama Al-Baqarah itu, kudanya yang sedari tadi tenang tertambat meronta ketakutan. Namun ketika Ia selesai membaca ayat itu, kudanya kembali tenang seperti semula.

Melihat kudanya kembali diam, Usaid kemudian melanjutkan membaca ayat berikutnya dari Al-Baqarah yang mulia, “dzaalikal kitaabu la rayba fiihi, hudal lil muttaqiin (Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa)”. Namun tiba-tiba, seiring dengan lantunan ayat ini, serta merta kuda yang sebelumnya telah diam tenang, kembali meronta tak karuan. Hingga tatkala Ia selesai melantunkan ayat ke dua dari Al-Baqarah itu, selesai pula rontaan kuda beralih kembali menjadi tenang.

Ia kaget dan heran, apa yang terjadi pada kudanya. Namun melihat kudanya kembali tenang, Ia pun melanjutkan membaca ayat-ayat berikutnya. Ayat ke tiga dan ke empat Al-Baqarah Ia baca dengan penuh keimanan, ketundukkan, kekhusyuan, mampu menerangi akal dan jiwa setiap yang mendengarnya. Namun peristiwa yang sama terjadi, percis seperti saat Ia membaca ayat pertama dan ke dua tadi; kudanya kembali meronta sedemikian rupa setiap Ia membaca ayat per ayat Al-Baqarah itu. Dan setiap Ia selesai membaca ayat per ayat dari surat yang mulia itu, kudanya pun kembali tenang. Ia pun semakin heran mengapa kudanya bersikap begitu.

Karena melihat kuda kembali tenang seperti semula, Usaid pun melanjutkan melantunkan bacaan ayat berikutnya dari Al-Baqarah yang mulia, “ulaaika ‘alaa hudammirrabbihim wa ulaaika humul muflihuun, (Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung)”. Namun, sekali lagi, lantunan ayat yang mulia itu kembali membuat kuda yang tenang seketika berontak ke kanan ke kiri ke depan ke belakang, mengeluarkan suaranya yang khas, ia sangat ketakutan seperti melihat tombak musuh saat di medan perang. Namun, lagi-lagi, seperti sebelumnya, saat Usaid selesai membaca ayat, kuda kembali tenang.

Usaid semakin heran dengan hal itu sambil bertanya-tanya, gerangan apa yang terjadi? Padahal suasana malam amat tenang, damai, tidak ada siapapun atau apapun yang aneh dan menyeramkan, namun mengapa kudanya bergerak meronta tak karuan ke sana ke sini seolah-olah melihat sesuatu yang sangat mengerikan? Ia pun mulai mengkhawatirkan keadaan Yahya yang sedang terlelap tak jauh dari tambatan kuda tersebut.

Khawatir kegaduhan kuda itu membangunkan putranya atau bahkan mencelakakan Yahya karena bisa jadi hempasan kuda perang yang sedang berontak itu mengenai anaknya, akhirnya Ia mendekati kuda itu untuk melihat keadaannya.

Saat Ia meneliti keadaan kuda dan sekitarnya, tak sengaja pandangan matanya tertuju ke langit. Gerangan apa yang terjadi. Bagai tersambar petir, sontak matanya terbelalak melihat keadaan langit malam itu yang tak pernah Ia lihat di malam-malam sebelumnya.

Sebuah cahaya terang benderang bagai lampu-lampu menghiasi langit tepat di atas rumahnya malam itu. Sebuah cahaya bagaikan payung berlapis-lapis memayungi langit malam itu. Pemandangan langit yang tak pernah Ia jumpai sepanjang hidupnya.

Cahaya bagaikan lampu-lampu yang berlapis-lapis yang terlihat jelas memayungi langit dari bawah sampai atas itu perlahan-lahan naik ke atas dan terus naik sampai lenyap di balik ufuk dan menghilang dari pandangan mata Usaid.

Akhirnya Ia memahami mengapa kudanya itu sedari tadi selalu berontak ketakutan, mungkin karena adanya cahaya yang begitu rupa tersebut. Namun Ia belum mengerti mengapa rontaan kudanya berhenti saat Ia menyelesaikan bacaan ayat per ayat Al-Quran itu. Ia pun masih heran, cahaya apa yang baru saja Ia saksikan di langit malam itu.

Hingga pada pagi hari Usaid bin Hudhair bergegas menceritakan kejadian yang Ia alami itu kepada Nabi saw. Setelah Ia menceritakan dengan lengkap dan jelas kejadian malam itu, kemudian Beliau saw. bersabda, “Bacalah hai putra Hudhair! Bacalah hai putra Hudhair! (dalam riwayat lain, “Teruskanlah bacaanmu wahai putra Hudhair!”)” Usaid menjawab, “Yaa Rasulullah, aku khawatIr kuda itu menginjak putraku Yahya yang berada tak jauh dari situ, maka ketika aku bangun untuk menghalau kuda sambil melihat ke langit, tiba-tiba aku melihat lampu-lampu bagaikan payung, maka aku keluar sehingga tidak bisa melihat langit.” Lalu Nabi saw. bertanya, “Tahukah engkau apakah itu?” Usaid menjawab, “Tidak.” Nabi saw. menjawab, “Itu malaikat yang mendekat karena suaramu (suara Usaid membaca Al-Quran), dan andaikan engkau baca terus hingga pagi niscaya orang-orang akan bisa melihat itu dan tidak terhalang dari mereka.” (HR. Bukhari, pada Kitab ke 66, Kitab Keutamaan-Keutamaan Al-Quran bab ke 15, bab Turunnya Ketenangan dan Malaikat Ketika Membaca Al-Quran).

Begitulah kisah kala itu di malam itu, hingga aku bertanya-tanya keistimewaan apa yang dimiliki oleh Usaid bin Hudhair hingga Ia menjadi magnet bagi para malaikat berkumpul di dekatnya untuk mendengarkan bacaan Qurannya? Apakah karena bacaan Qurannya yang begitu indah, mempesona, penuh dengan kekhusyuan, keimanan dan ketundukan? Aku rasa bukan [hanya karena itu]. Sebab masih begitu banyak sahabat Nabi lain yang begitu indah, mempesona, khusyu penuh keimanan dan ketundukan dalam bacaan Qurannya, namun tidak banyak diantara mereka yang memiliki keistimewaan atau mengalami peristiwa seperti Usaid bin Hudhair alami sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits di atas.

Lantas keistimewaan atau amalan apa lagi yang dimiliki oleh Usaid bin Hudhair hingga Ia mendapat kemuliaan dan kedudukan yang agung di sisi Allah swt. sampai-sampai para malaikat pun berbondong-bondong mendekat padanya untuk mendengar bacaan Qurannya? [] Bersambung..

Yuk bagikan !

Comments

comments

Related posts

Leave a Comment

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com