You are here
Pemikiran Islam 

Urgensi Dakwah Islam

Oleh : Muhamad Lutfi

Dakwah adalah seruan kepada manusia untuk memeluk dan mengamalkan Islam serta melakukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Dakwah juga dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mengubah masyarakat – baik pemikiran, perasaan maupun sistem aturannya- dari masyarakat jahiliyah ke masyarakat Islam.[1]

Berdakwah merupakan kewajiban sekaligus ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya untuk dekat (taqarrub) dengan Tuhannya. Dakwah juga mengajari pelakunya bahwa kedudukannya di hadapan Allah adalah sangat tinggi; Allah akan mengangkat kedudukannya di dunia maupun akhirat. Dakwah ke jalan Allah juga merupakan aktivitas terpenting dari para nabi. Mereka semuanya senantiasa menjalankan aktivitas dakwah. Melalui jalan dakwah, mereka berupaya menegakkan agama Allah SWT.

Dengan perjuangan dakwah Islam, kemulian, kekuatan, dan eksistensi Islam bias  dikembalikan sebagaimana terjadi pada masa lalu. Dengan perjuangan dakwah Islam, Islam bisa disebarkan di tengah-tengajh manusia seluruhnya sehingga agama seluruhnya hanya milik Allah. Betapa dunia membutuhkan hal semacam ini saat kemewahan dan kegemerlapan peradaban Barat dengan sekularismenya semakin gencar digelorakan, padahal itu semua hanya tipuan dan kehampaan belaka yang justru menjerumuskan manusia ke jurang kerusakan dan kehancuran.

Aktivitas semacam ini pula yang yang senantiasa dilakukan oleh umat Islam generasi awal pada masa lalu, terutama pada masa Nabi SAW. Mereka senantiasa menjaga konsistensi perjuangan dakwah Islam sekaligus memelihara eksistensi agama mereka. Seandainya tidak ada perjuangan dakwah Islam, Islam mustahil bisa sampai hingga ke belahan dunia, dan mustahil pula ratusan juta manusia bisa memeluk akidah Islam, Karena banyaknya tantangan yang mengahadang keimanan terhadap Rasulullah SAW.

Drs. RB. Khatib Pahlawan Kayo mengatakan:

“Dakwah merupakan tugas para pengganti dan pewaris Nabi. Para rasul dan nabi adalah juru dakwah yang sempurna. Di banding dengan para rasul dan nabi itu, kita memang belum apa-apa. Akan tetapi, kita wajib bersyukur karena kita telah memilih jalan yang benar, yakni bergabung bersama barisan para rasul dan nabi itu. Konsekuensi dari pilihan itu, kita harus senantiasa berusaha mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW termasuk jejak langkah beliau dalam menggerakkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar”.[2]

Dari sini dapat dipahami, bahwa dakwah dan Islam adalah laksana air dengan orang yang mengalirkannya. Air, sebagaimana diketahui, dapat mengalir, memberi minum, dan memberi kebajikan bagi umat manusia. Akan tetapi, ia butuh manusia yang mengalirkannya. Demikian pula Islam sebagai agama yang benar dan merupakan representasi kehidupan yang sahih; ia membutuhkan orang yang “mengalirkannya”, yakni mengalirkan kebaikannya agar umat manusia seluruhnya – yang memang mengharapkan keridhaan Allah – bias teraliri, dapat merasakannya, dan mendapatkan petunjuknya.[3]

 

[1] Arief B. Iskandar, Materi Dasar Islam, Bogor, Al Azhar Press, 2013, h…184-185

[2] Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah, Jakarta: Amzah, 2007, h…7

[3] Arief B. Iskandar, Tetralogi Dasar Islam, h…106

Yuk bagikan !

Comments

comments

Related posts

Leave a Comment

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com