AKHLAK TERHADAP INFORMASI


Catatan Anak Sholeh
AKHLAK TERHADAP INFORMASI


Oleh : Ahmad Wildan

Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam 

Universitas Ibn Khaldun Bogor

Akhlak adalah representasi jiwa dan iman seorang muslim. Karena itulah Allah SWT selalu menyertakan amal Soleh (akhlak) dalam setiap pembahasan iman di dalam Al-qur’an. Bahkan dalam pembahasan aqidah, para ulama sering menyandingkan nya dengan pelajaran akhlak yang kemudian kita kenal dengan istilah Aqidah-Akhlak. Oleh karena itu, seorang muslim wajib menunjukan akhlak yang mulia sebagai representasi iman dari dalam dirinya yang mulia pula. Hal inilah yang menjadikan posisi akhlak yang merupakan bagian dari amal Soleh menjadi sangat krusial bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan nya sehari-hari, mulai dari akhlak nya terhadap Rabb-nya, akhlak terhadap diri nya, hingga akhlak terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda : “ Orang Islam itu adalah orang yang selamat dari lidah (ucapan) dan tanganya (perbuatanya) orang-orang muslim lainnya” (H.R Tirmizi dan Nasa’i).

Pentingnya seorang muslim menjaga akhlak harus diterapkan dalam setiap aspek dan dimensi kehidupan. Termasuk akhlak dalam menggunakan teknologi media sosial dan informasi. Seorang muslim yang menjadi pengguna media social dan informasi juga juga perlu menjaga akhlaknya agar dalam setiap aktifitas dan kegiatan nya di media sosial dia tetap menjaga kemaslahatan bagi dirinya dan juga untuk orang lain. Hal ini yang akhir-akhir ini banyak diabaikan sehingga banyak sekali pengguna media sosial dan informasi yang tidak paham terhadap kode etik dirinya sebagai seorang muslim dalam ber mu’amalah di media sosial dan informasi. Ditambah lagi awamnya masyarakat kita terhadap kode etik jurnalistik yang berlandaskan pada prinsip prinsip islam yang sangat menjunjung tinggi nilai otentifikasi kebenaran sebuah informasi. Dan nilai itu sudah sangat diabaikan oleh kebanyakan ummat islam saat ini. Dimana dengan mudah dan cerobohnya mengambil sikap dan kesimpulan pada suatu informasi yang diterima. Tanpa mengedepankan proses klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu. Akhirnya, banyak sekali perdebatan, perselisihan dan silang sengketa antar ummat dewasa ini disebabkan karena kecerobohan ini. Semua itu diperparah dengan perkembangan teknologi dan media social yang sangat menggeliat di zaman modern ini. Sehingga banyak sekali perdebatan dan saling menuduh antar golongan dan bahkan antar oknum dari komunitas pengajian ulama-ulama terkemuka yang dilakukan di media social.Yang lebih konyol lagi hal itu terjadi karena kutipan video-video pendek yang durasinya tidak sampai 10 menit. Tentu masih dengan permasalahan yang sama yakni jauh dari budaya tabayyun (klarifikasi) dan husnu adzonnu (asas praduga tak bersalah).

Islam adalah agama yang relevan bagi perkembangan zaman dan teknologi apapun, sehingga masalah ini pun sebenar nya sudah islam atur jauh berabad abad yang lalu sebelum ditemukan nya media informasi dan social seperti sekarang. Maka pada kesempatan ini, penulis ingin memaparkan beberapa hal yang perlu dan wajib dijadikan landasan berpikir bagi seorang muslim dalam menerima dan menyikapi sebuah informasi.
1. Prinsip klarifikasi terhadap sebuah informasi.
            Allah SWT berfirman : "Hai orang-orang yang beriman..Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka periksalah oleh kalian (kebenaran beritanya itu).. ( Q.S : Al-hujarat: 6). Ayat ini memberikan prosedur yang tegas dan jelas bagi kita dalam menyikapi sebuah informasi yang kita terima. Ini yang kemudian berkembang dalam dunia jurnalistik dengan istilah rekonfirmasi dan klarifikasi terhadap sebuah isi berita. Proses tabayyun ini akan memenuhi syarat jika kita melakukan klarifikasi langsung pihak pihak yang terkait dalam informasi tersebut. Baik melalui alat komunikasi atau justru lebih baik dengan bertatap muka langsung. Itupun jika informasi tersebut hanya berkaitan denga n orang dan sebuah pernyataan. Namun jika informasi tersebut berkaitan dengan sebuah lembaga atau instansi maka akan lebih kompleks lagi prosedur klarifikasinya. Yakni dengan melakukan investigasi dengan mendatangi langsung atau minimal dengan mencari sumber informasi dari pihak yang sudah melihat dan mendatangi lembaga atau instansi tersebut. Tentu dengan sanad informasi yang juga disertakan data dan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan, seperti dalam bentuk foto, rekaman suara, maupun rekaman video. Sehingga informasi tersebut dapat dinilai dengan ojektif dan bijaksana.
2. Menghindari ghibah dan fitnah dalam penyampaian dan penyebaran sebuah informasi.
Rasulullah SAW bersabda : ” Jika apa yang kamu bicarakan banar-benar ada padanya maka kamu telah mengibahnya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874). Hadits ini tentu semakin mempertegas ayat Al-quran tentang bahaya ghibah dalam (Q.S.49 Al-hujarat :12
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.  Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain,  dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.  Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tubat lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (H.R. Al-Bukhari hadits no. 6064)
            Jelas dalam beberapa dalil diatas bahwa pembahasan, penyebaran, hingga penghakiman terhadap seorang ataupun golongan yang berlandaskan pada sebuah informasi harus menjunjung tinggi hak-hak pihak tersebut. Diantaranya yakni menjaga izzah saudara kita dengan menjaga aib nya dari konsumsi umum oleh banyak pihak. Apalagi keberadaan media social yang saat ini sangat mepercepat dan memperluas jangkauan penyebaran sebuah informasi. Banyak pihak yang salah kaprah dalam hal ini. Atas nama amar makruf nahi mungkar, mereka dengan bebasnya menvonis, menyalahkan dan menyudutkan pihak pihak tertentu di berbagai sarana media informasi. Padahal tidak bisa hal tersebut dilihat dari hanya satu aspek saja. Karena ketika kita berada di dunia informasi seperti media sosial maka ada banyak aspek yang perlu kita pahami termasuk soal menjaga aib saudara kita. Apalagi di media sosial tidak ada batasan dan klasifikasi penggunanya. Semua golongan usia dan tingkat pendidikan bisa mengakses postingan kita. Oleh karena itu, landasan hukum yang berlaku dalam dunia media informasi bukan hanya soal al amru bil makruf dan an nahyu anil mungkar saja, tapi juga berlaku disni hukum Ghibah dan Fitnah yang jelas substansi nya adalah demi menjaga hak saudara kita sesama muslim di hadapan publik. Artinya persoalan yang berkaitan dengan kekurangan dan kesalahan seorang harus dibawa ke ranah privasi personal yang jauh dari khalayak ramai. Adapun jika memang betul terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan yang perlu diluruskan maka dibicarakan dan didiskusikan dengan arif dan bijaksana. Setelah itu barulah diklarifikasi secara resmi kepada khalayak ramai dengan baik dan legowo tanpa ada pihak yang merasa direndahkan atau disudutkan. 
            Maka sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk lebih berhati-hati dan menjaga batasan diri dalam menggunakan media sosial dan informasi. Karena akhlak seorang manusia tidak dibatasi oleh ruang dan dimensi apapun. Demi terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang jauh dari kedutaan, provokasi, apalagi perpecahan hanya karena kesalah Paiman dalam menggunakan media sosial dan informasi. Dan kembali pada landasan berpikir bahwa seorang muslim yang ideal adalah yang mampu merepresentasikan iman dalam hatinya menjadi akhlak yang dapat dirasakan maslahatnya bagi orang disekitarnya. Wallahu a’lam bi as-sowab. Ahmad Wildan


EmoticonEmoticon