Isu Radikalsime; Ibarat Sebuah Kain Untuk Membendung Dan Menghalangi Kebangkitan Islam


Catatan Anak Sholeh

Isu Radikalsime; Ibarat Sebuah Kain Untuk Membendung Dan Menghalangi Kebangkitan Islam



Oleh : Muhamad Lutfi, Muslim Circle Analyze


Sejak turunya wahyu pertama kepada Rasulullah saw. hingga seruan kepada Islam (Dakwah) dijalankan, masyarakat Islam telah menghadapi tantangan dan konspirasi yang hebat. Tantangan dan Konspirasi ini dibuat secara halus dan rumit serta mengenyampingkan nilai kemanusiaan. Halus, Karena umat Islam bahkan tidak sadar akan racun yang telah disebar dan telah menggerogoti tubuh umat. Rumit, karena upaya penyebaran racun ini dilakukan secara sistematis dan terorganisir , meliputi berbagai macam bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, pendidikan, sosial,budaya dan lain sebagainya. Benarlah firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120)

Musuh-musuh Islam dari segenap penjuru senantiasa berusaha menghancurkan umat atau menghalangi kemajuannya dengan membuat makar yang bertujuan melemahkan atau bahkan mengamputasi peranan Islam di ranah global.

Tidak terkecuali di Indonesia, upaya untuk membendung kebangkitan Islam semakin jelas terlihat. Berbagai strategi dirancang dan dijalankan, dan yang paling menonjol diantaranya adalah membangun stigma negatif dan monsterisasi terhadap ajaran Islam dan para pengembannya. Kampanye anti Radikalisme untuk membendung kebangkitan Islam Radikal dan teroris yang beberapa waktu lalu begitu massif digencarkan menjadi salah satu bukti nyata.

Pasalnya kebangkitan Islam Radikal dan teroris yang dimaksud itu sejatinya adalah kebangkitan Islam. Politisi senior Amerika, mantan Asisten Presiden AS untuk urusan keamanan Nasional 1969-1975, yakni Henry Kissinger, pernah menulis di Koran Hindustan Times pada November 2004 “...Apa yang dinamakan terorisme di Amerika sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia sekular dan terhadap dunia yang demokratis atas nama pendirian kembali semacam kekhilafahan...

Tidak sampai disitu, upaya kriminalisai pun dilakukan. Perjuangan yang menyerukan kebangkitan Islam yang hakiki dicap sebagai tindakan kriminal dan radikal. Siapapun yang mendakwahkannya akan dituding sebagai pelaku kejahatan, bahkan harus rela dituduh sebagai orang yang anti- Pancasila dan NKRI. Persekusi yang terjadi terhadap beberapa dai belakangan ini, sebut saja Ustadz Felix, Ustadz Abdul Somad dan para dai yang lain,  menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa ada upaya untuk membendung kebangkitan Islam.

Padahal, apa salahnya radikal ?!. Secara bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal diartikan sebagai “maju dalam berpikir atau bertindak”. Jika dipasangkan pada kalimat “perubahan radikal” maka diartikan sebagai perubahan “secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip)”. Dari definisi ini bukankah tak ada yang salah dengan radikal ?

Namun, pada saat ini telah terjadi hegemoni wacana atau penguasaan atas suatu makna dari sebuah kata. Radikal dan radikalisme misalnya, yang menurut bahasa aslinya bersifat umum- bahkan bisa berkembang menjadi baik ketika kata itu hadir dalam konteks yang tepat- kini telah menjadi kata yang berkonotasi buruk. Hal ini tercipta oleh pemaknaan kata ini- melalui berbagai instrumen kekuasaan seperti media massa dan struktur birokrasi- telah dihegemoni oleh penguasa. Sehingga yang terjadi hari ini, setiap orang yang berusaha berjuang untuk kebangkitan Islam, dengan mudah dicap sebagai seorang radikal (dalam konotasi buruk) yang layak dipersekusi, difitnah dan.didzolimi sesuka hati. 

Kebangkitan Islam Tak Akan Terbendung

 
            Siapapun, termasuk penguasa bisa saja berusaha sekuat tenaga untuk membendung dan menghalang-halangi kebangkitan Islam. Mereka bisa saja melakukan kriminalisasi dan monsterisasi terhadap ajaran Islam, seperti Syariah dan Khilafah. Mereka bisa saja membubarkan ormas yang selalu teguh memperjuangkan kebangkitan Islam. Mereka dengan sangat arogan, bisa terus mempersekusi dan membubarkan pengajian-pengajian atas tudingan dan fitnah-fitnah keji bahwa pengajian tersebut menyebarkan paham radikal dan sebagainya. Mereka pun bisa terus mematahkan “bungan-bunga peradaban Islam” yang mulai tumbuh.
 
Namun, mereka tidak akan mampu membendung datangnya musim kemuliaan kebangkitan Islam. Mereka tidak akan mampu menghalangi tegaknya Khilafah sebagimana mereka tidak akan mampu menghalangi terbitnya matahari. Karena sesungguhnya, kebangkitan Islam dan kembali tegaknya Khilafah Islam adalah janji Allah SWT dan bisyarah Rasulullah saw.
 
Allah SWT berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS an- Nur : 55)
 
Dan Rasulullah saw bersabda, ”...Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah...” (HR Ahmad; Shahih). Wallahu’alam.

Silahkan Sebarkan, Gratis !!!

 

 

 


EmoticonEmoticon