Perayaan Natal & Toleransi Beragama



Catatan Anak Sholeh

Perayaan Natal & Toleransi Beragama


Oleh : Muhamad Lutfi, Muslim Circle Analayze

Indonesia yang merupakan negara majemuk, selalu dihadapkan pada permasalahan yang kompleks. Banyaknya interaksi masyarakat dengan latar belakang yang berbeda tak jarang mengakibatkan gesekan-gesekan terjadi di tengah masyarakat. Sebagai contoh, setiap menjelang tanggal 25 Desembar, propaganda ide toleransi umat beragama selalu nyaring terdengar, khususnya toleransi umat Islam terhadap kaum Nasrani, semisal semarak perayaan Natal bersama. Padahal, toleransi yang diwacanakan tersebut masih bias dan sarat kepentingan. Baik motif ekonomi demi meraup untung, motif politik, maupun motif penyebaran ide pluralisme agama atas dasar kebebasan.
Dalam konteks politik, wajar jika kaum Nasharani ingin unjuk kekuatan terkait dominasi mereka di negeri Muslim terbesar ini. Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir mereka mengadakan acara Natal bersama besar-besaran, mengundang penguasa dan pejabat untuk menghadiri perayaan tersebut, tak peduli dengan agama penguasa atau pejabat itu. Hal ini jelas menunjukan kuatnya pengaruh kaum Nasrani dan lemahnya penguasa dan pejabat Muslim di hadapan mereka.
Dalam konteks ide, Natal juga dijadikan sebagai salah satu cara menyebarkan virus pluralisme yang berujung pada pengrusakan akidah berkedok toleransi. Akidah umat Islam secara perlahan terus dirusak. Ide pluralisme mengajarkan semua agama sama dan mengajak umat Islam agar mengakui ‘kebenaran’ agama lain. Jika virus pluralisme berhasil ditanamkan di tubuh umat Islam, maka berbagai kemunkaran terkait masalah agama akan mudah masuk. Sebut saja penggunaan atribut Natal yang dipaksakan suatu perusahaan terhadap pekerja Muslim, propaganda kebolehan mengucapkan “Selamat Natal” dan bahkan lebih jauh ide tentang pernikahan beda agama akan kembali dimunculkan.

Keharaman Merayakan Natal

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengajarkan  perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. Al. Al-Furqon: 72)
Berdasarkan ayat ini banyak dari kalangan fuqaha yang menyatakan haramnya menghadiri dan ikut serta dalam perayaan hari raya kaum kafir, termasuk perayana Natal.  Imam Baihaqi menyatakan, jika kaum muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.
Imam Ahmad Bin Hanbal berkata, kaum muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Al-Qadhi Abu Yala al-Fara berkata, kaum muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafif atau musyrik.
Kemudian Imam Malik menyatakan, Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan yang digunakan mereka untuk merayakan hari rayanya.
Dari penjelasan beberapa ulama Islam ini, maka jelaslah bahwa kaum muslim diharamkan melibatkan diri dalam perayaan hari raya kaum kafir, baik musyrik maupun ahli kitab. Melibatkan diri di sini mencakup aktivitas mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya.

Toleransi Yang Benar

Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hal. 702, cet. 14). Namun toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut. Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Toleransi itu membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam.
Buktinya, dalam masalah muamalah misalnya, Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah berbisnis dengan non-Muslim secara adil dan jujur, selama bukan jual-beli barang haram. An-Nawawi mengatakan, “Kaum Muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non Muslim.” (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim, 10/218).
Rasulullah juga menjenguk tetangga non-Muslim beliau yang sakit (HR. Bukhari & Muslim). Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non-Muslim. Rasul Shallallhu ‘alaihi Wassallam bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti kafir Dzimmi, maka aku berperkara dengannya, dan barangsiapa berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada hari kiamat.” (HR. As-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 8270).
Namun, toleransi Islam ini tidak bermakna menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr berkata: Abd ibn Humaid, Ibn al-Mundzir dan Ibn Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah meminta kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam, “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan firman-Nya, surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir: “… Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” (QS. al-Kafirun [109]: 6).
Karena itu, toleransi dalam menyikapi perayaan Natal, adalah dengan membiarkan ummat Nasrani melakukan apa yang mereka yakini tanpa mengganggu aktivitas tersebut. Dan tidak ikut terlibat pada perayaan hari raya mereka dalam bentuk apapun.
Sebaliknya, mereka (ummat nashrani) pun tidak boleh memaksa ummat Muslim untuk mengakui, mengucapkan selamat, atau mengikuti perayaan selain Islam. Jika ini terjadi, justru ini bisa disebut intoleransi, sebab mereka sudah meminta ummat Muslim untuk meyakini apa yang meraka yakini.
Inilah Toleransi yang hakiki, Toleransi yang diajarkan dalam ajaran Islam, bahkan menjadi contoh bagi kehidupan bermasyarakat di peradaban lain. Toleransi yang diajarkan Islam ini, langgeng terasa hingga era akhir Khilafah Utsmaniyah.
Seorang Orientalis Inggris, TW Arnold menggambarkan betapa agung dan indahnya ajaran toleransi dalam Islam dengan mengakatan: “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors -at least for two centuries after their conquest of Greece- exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe…” [Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…] (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hal. 134). Wallahu’alam

Sebarkan !


EmoticonEmoticon