Jangan Sikapi Hujan dengan Perilaku Kufur

Catatan Anak Sholeh
Hujan
CATATAN ANAK SHOLEH , Tidak sedikit bentuk ucapan kalimat yang tampaknya sederhana terlebih diyakini kemudian diamalkan, bahkan menyebabkan kekufuran. Terlebih zaman now, tradisi tradisi jahiliyah yang seolah warisan budaya di pertahankan demi seolah melestarikan nilai leluhur. Diantara sekian banyak perilaku menyimpang ini diantaranya meyakini tentang hujan seperti riwayat hadits dibawah ini,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ
صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Shalih bin Kaisan dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud dari Zaid bin Khalid Al Juhaini bahwasanya dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah pada suatu malam sehabis turun hujan. Setelah selesai Beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda: "Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?" Orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: '(Allah berfirman): 'Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Orang yang berkata, 'Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya', maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, '(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu', maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang'." (HR. Bukhari: 801)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits tersebut, ”Jika dia meyakini bahwa bintang memiliki pengaruh dalam turunnya hujan, maka ini adalah kekafiran, karena keyakinan seperti itu adalah syirik dalam rububiyyah-Nya. Seorang musyrik statusnya adalah kafir. Namun jika dia tidak meyakini yang demikian, maka hal itu termasuk syirik asghar, karena termasuk menisbatkan (mengaitkan) nikmat Allah kepada selain-Nya. Padahal Allah Ta’ala tidaklah menjadikan bintang sebagai sebab turunnya hujan. Turunnya hujan hanyalah karena anugerah dari Allah dan rahmat-Nya. Bisa saja Allah menahan hujan itu apabila Dia menghendaki dan menurunkan hujan itu apabila Dia menghendaki” (Fathul Majiid, 2/543).
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika banyak diantara umat Islam yang masih percaya dengan dukun atau pawang hujan, sebagai bentuk usaha menghalau hujan ketika ada pesta atau hajatan biar hujan tidak mengganggu pesta.
Para dukun atau pawang berkolaborasi dengan jin mereka upayakan agar bisa meniadakan hujan yang mengandung rakhmat itu, sudah pasti mereka tergolong melakukan perbuatan kekufuran. Padahal hal hujan adalah bentuk rakhmat Allah Ta'ala yang diturunkan demi kesejahteraan para hambanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala, 
وَهُوَ الَّذِى يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ  ۖ  حَتّٰىٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ  ۚ  كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 57)
Ayat diatas memberi petunjuk bahwa hujan merupakan hak Allah dan ciptaan Nya. Kemudian Allah Ta'ala sebagai pemelihara alam semesta berdasarkan pengaturan yang sangat bijaksana ini, menjadi perantara dan penyebab perubahan-perubahan alam, seperti maraknya kehidupan di muka bumi, kemudian terkoordinasinya angin dan hujan. Berbagai fenomena alam ini  merupakan sebuah dalil atas tauhid dan Keesaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara jagat raya ini, maka layak kah seorang hamba menandingi ciptaanNya sampai kemudian meniadakan peran Allah?
Semoga kita terhindar dari perilaku tersebut agar selamat dari dosa besar yaitu menyekutukan Allah Ta'ala.
Wallahu a'lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
share THIS:


EmoticonEmoticon