Keikhlasan Penuntut Ilmu

Ilustrasi

CATATAN ANAK SHOLEH - Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata ketika menjelaskan tanda-tanda keikhlasan seorang penuntut ilmu:
ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﻇﻬﺮ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﺃﻭ ﻟﺴﺎﻥ ﻏﻴﺮﻩ.
"Dia tidak peduli apakah kebenaran itu nampak melalui ucapannya atau melalui ucapan orang lain." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 4 hlm. 349)
Tidak ada seorang pun yang meragukan tentang keutamaan mencari ilmu. Mulai sejak dahulu sampai kapan pun, menuntut ilmu tetaplah suatu keharusan. Terlebih di zaman modern ini yang mana setiap individu dituntut untuk peka dan pintar membaca situasi. Jika tidak peka dan pintar maka kita akan ketinggalan jauh dari yang lain. Saat ini informasi mengalir begitu deras, hampir tanpa batas. Maka, perihal keutamaan mencari ilmu tidak butuh dalil lagi. Secara fitrah manusia memang butuh pengetahuan agar hidup yang dijalani bermakna. Orang yang tidak memiliki ilmu akan tertinggal. Hidupnya tak ubahnya seperti keledai. Aktivitasnya hanya makan, minum, tidur, dan lain-lain yang berhubungan dengan syahwat duniawi. Tanpa ilmu hidup tak berarti.
Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia” (HR at-Tirmidzi no. 2685)
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang mempelajari ilmu agama yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu (agama)”
Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala yang merupakan sebab utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya.
Jika kita menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi kita seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jalla ia akan masuk ke dalamnya. Sebagaimana hadits dibawah ini,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.” (HR.Muslim)
An Nawawi rahimahullah berkata: “ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.”
Belajar dan mengajarkan ilmu tentu harus ikhlas semata-mata ingin mengajarkan dan membantu sesama bukan karena ingin dipuji maupun menyombongkan diri. Sebab bila sesuatu yang kita kerjakan bukan karena ikhlas maka akan sia-sia ilmu yang kita pelajari dan kita berikan. Ikhlas merupakan hal yang sulit dalam kehidupan kita, tetapi sebisa mungkin kita ikhlas dalam melakukan segala sesuatu dan tidak usah mengharapkan imbalan.
Belajar menuntut ilmu dan memberikan ilmunya kepada orang lain secara ikhlas merupakan cara terbaik manusia ketika hidup di dunia. Jangan pernah sombong dan pelit apa yang pernah kau raih dari kehidupan di dunia ini termasuk ilmu.
Wallahu a'lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
Sumber:
www.suara-islam.com
share THIS:


EmoticonEmoticon