Pondok Modern Gontor Berduka, Salah Satu Kader Terbaiknya Wafat

Dr. H. Dihyatun Masqon MA
CATATAN ANAK SHOLEH - Gontor, Ponorogo , Rabu, 28 Februari 2018 sekira Pk 09.50 diterima pesan singkat  melalui jejaring WhatsApp (WA),  berdasar informasi dari Ustaz Fairuz Subakir----putra KH. Imam Subakir Ahmad  mengabarkan, telah wafat Ustaz Dr. H. Dihyatun Masqon MA,  di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta pada Pk 09.45.
Innnalillahi wa inna ilaihi raji’un. Berita duka segera beredar luas, yang kemudian diikuti informasi, jenazah akan segera di bawa ke Gontor – Ponorogo. Pk 14.00 akan diterbangkan dengan Lion Air ke Solo dan di makamkan di Pemakaman keluarga di lingkungan Pondok Modern Darrussalam Gontor – Ponorogo.
Dikonfirmasi lebih lanjut dari pihak keluarga Pondok Modern Gontor, segera  menyampaikan revisi yang menyebut jenazah diberangkatkan dari Bandara Sukarno-Hatta Pk 18.00, diperkirakan sampai di Bandara Adisumarmo Surakarta Pk 19.00. Kemudian dishalatkan di Pondok Modern Gontor Putri di Sambirejo, Mantingan Kabupaten Ngawi sekira Pk 21.00. 
Melanjutkan perjalanan menuju Universitas Darrussalam (Unida) Gontor Ponorogo, diperkirakan sampai pada Pk 23.30. Dishalatkan dan disemayamkan di Masjid Unida. Kamis 1 Maret 2018 sekira Pk 06.00, Jenazah di bawa ke rumah Keluarga KH. Imam Zarkasyi, untuk di shalatkan oleh keluarga. Kemudian pada Pk 08.00 di shalatkan di Masjid Jami’ Gontor dan langsung di makamkan di pemakaman keluarga di lingkungan Pondok Modern Gontor.
Beberapa jam saja dari kabar duka tersebut, segera bertebaran tulisan dari sejumlah alumni Pondok Modern Gontor di jejaring media social. Satu diantaranya Erdy Nasrul yang kini bekerja di Harian Republika – Jakarta, yang merasa mengenal almarhum dengan sangat dekat sejak masih di bangku Kulliayyatul Muallimin Al Islamiyah (KMI), dan kemudian bertemu kembali saat sudah kuliah di Institut Studi Islam Darrussalam (ISID yang kini telah menjadi Universitas Darrussalam/Unida).
“Sedih Hati ini. Begitu cepat dia meninggalkan kefanaan dunia. Padahal hati gersang ini masih sangat membutuhkan wejangan dan nasihat  Dr. Dihyatun---penggugah semangat. Tidak jarang bersama sejumlah teman sesama alumni Pondok Gontor, dalam berbagai pembicaraan, sangat mengingat  dan mengagumi beliau,” kenangnya.
Pada bagian lain, yang tidak dilupakan nasihat almarhum yang mengingatkan bahwa Globalisasi mengharuskan semua orang untuk selalu belajar. Baik dari buku, pengalaman dan tokoh-tokoh. “Siapapun tidak boleh diam. Ingatlah selalu nasihat Iqbal: On this road halt is out of lace. Static condition means death. Those who moved have gone ahead. Those who terried even a while will be crushed, ” pesan almarhum.
Alumni lain, Mohammad Deny Irawan yang sekarang berkarier di Majalah Gontor yang diterbitkan dari Jakarta juga sangat mengenang Ustaz Dihyatun--- yang katanya karib disapa dengan Ustaz Dihyah--- yang tidak pernah berkata kasar kepada santri dan mahasiswanya; “Anak-anakku itu anak-anak Macan,” demikian yang senantiasa dikatakan Ustaz Dihyah untuk menyebut para santri dan mahasiswanya.
Sementara para santri dan mahasiswa yang lain sangat mengenang nasihat Ustaz Dihyah di suatu Jumat pagi,  ketika memimpin kegiatan semacam senam kesegaran jasmani yang juga menyebut para santri dan mahasiswa sebagai adik-adik----karena almarhum, tidak lain juga sebagai alumni Pondok Modern Gontor.
“Dua hal saja yang sangat penting; Yang pertama adalah Badan sehat. Kalau badan sehat, adik-adik ku sekalian, seluruh aktivitas menjadi indah. Pada kondisi demikian, keinginan untuk sukses pasti ada. Yang kedua;  Berbudi tinggi. Akhlak akan datang, apabila kita sekalian berbadan sehat,” nasihatnya yang disampaikan dengan tersenyum dan menggunakan bahasa yang campur-campur antara bahasa Arab, Inggris dan Indonesia.
Bagian lain yang juga sangat dikenang oleh para santri khususnya mahasiswa Unida, yaitu ketika di suatu acara, diantaranya  digelar pula pembacaan puisi dalam dua bahasa yang disampaikan sastrawan sepuh Dr. Taufiq Ismail (dalam bahasa Indonesia) dan dalam bahasa Arab disampaikan Dr. Diyatun Masqon MA. 
Kendati puisi yang terkesan sangat sederhana tersebut, dan pembacaannya  terjadi sudah lebih tiga tahun silam, tepatnya Jumat (7 November 2014) silam, namun masih dapat ditonton kembali melalui simpanan rekaman Gontor TV . 
Judul puisi itu “Sembilan Pertanyaan Cucu Kyai Kepada Kakeknya.” Diantara bait-bait puisi itu  : “Kek…Kakek. Sesudah Bumi ini mati, agar bisa hidup lagi, apa yang Dia beri ? ……….Air !.// Fir’aun, orang yang luar biasa berkuasanya. Apa yang menghabisinya ?…….Air !.// Kakek….Kakeku….dari apa  semua makhluk diciptakan ?……..Air !// Listrik menerangi dunia. Menggerakkan berjuta-juta pabrik. Apa penyebabnya ?……Air !// Apa yang ada di dalam mata…ketika Alquran dibaca dengan khususk ?…..Air !// Bagian tubuh ini…..sebelum bersujud dengan apa mereka bersuci ?……Air !// Kakek….Kakek… Bagaimana kalau di Dunia ini air tidak ada ………?// Wahai, Wahai cucuku yang cerdas. Masalah ini….langsung kau tanyakan sendiri kepada Allah di Surga nanti//.
Almarhum Ustaz Dr. Dihyatun Masqon, MA., adalah salah satu dari belasan kader yang sebenarnya sangat diharapkan untuk ikut bersama-sama menjaga kelangsungan Pondok Modern Gontor Ponorogo. Setelah lulus dari KMI Gontor, menempuh pendidikan tinggi di sejumlah Negara. Diantaranya di Universitas Islam Madinah, Universitas of The Pundjab, Pakistan, Universitas Al Azhar Cairo Mesir dan terakhir di Millia Islamic Universitasity, New Delhi, India.
Asli dari Kabupaten Kendal Jawa Tengah,  Almarhum Ustaz Dr. Dihyatun Masqon, MA., dalam setiap tutur katanya senantiasa lembut. Fasih berbicara dan menulis dalam bahasa Arab, Inggris bahkan India (Urdu), serta sejumlah bahasa asing lainnya.  
Ustaz Dr. Dihyatun Masqon, MA., adalah suami Ustazah Roshda Diana---putri Alamarhum KH. Imam Subakir Ahmad---yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Institut Studi Islam Darrussalam (ISID).  Almarhum KH. Imam Subakir Ahmad, santri senior asal Kabupaten Pacitan,  adalah suami Hj Churiyyah Zarkasyi ---- putri Almarhum KH. Imam Zarkasyi----salah satu dari Tri Murti---tiga pimpinan dan pendiri Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Rep. Muhammad Halwan/dbs 
Sumber:
www.suara-islam.com


EmoticonEmoticon