Wednesday, October 24, 2018

Jangan Pernah Bosan Beristighfar


Catatan Anak Sholeh - Siapa kita jika dibandingkan Nabi kita, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah manusia mulia yang terjaga dari segala bentuk kesalahan dalam menyampaikan ajaran agama serta terpelihara dari segala dosa. Karena segala gerak langkah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamsenantiasa berada di bawah bimbingan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala. Meski demikian, Nabi tidak pernah henti-hentinya beristighfar memohon ampunan kepada Allah.
Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa dirinya beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari.
وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6307)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan dalam hadis yang lain dari Aghar bin Yasar radliallahu ‘anhu,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim no. 2702 b)
Beginilah sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang sudah mendapat jaminan ampunan dari Allah atas segala dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, tapi beliau masih tetap beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang penuh dosa? berapa kali kita beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam sehari? berapa banyak waktu yang kita sisihkan dalam sehari untuk mendekatkan diri kepada Allah, merenungi setiap dosa yang kita lakukan?
Dua hadis di atas menjadi dalil tentang wajibnya taubat dan istighfar setiap saat. Senantiasa beristighfar dan bertaubat merupakan bentuk kita melaksanakan perintah Allah dan meneladani Rasul-Nya. Jika Nabi saja membiasakan diri untuk selalu beristighfar dan bertaubat, tentu kita apalagi.
Jujur dalam Bertaubat
Taubat hendaknya dilakukan dengan penuh kejujuran yang ditunjukkan dengan benar-benar berhenti dari berbuat dosa. Orang yang lisannya mengaku bertaubat namun hatinya masih terkait keinginan untuk berbuat dosa, atau lisannya mengatakan bertaubat sementara anggota tubuhnya terus menerus berbuat maksiat, maka taubatnya tidaklah bermanfaat. Bahkan ia sama saja mengolok-olok Allah subhanahu wa ta’ala. Karena bagaimana bisa seseorang mengaku bertaubat kepada Allah namun hatinya masih bertekad untuk berbuat maksiat, bagaimana mungkin seseorang mengatakan telah bertaubat dari maksiat sementara ia terus tenggelam dalam kemaksiatan.
Oleh karena itu, jika kita benar-benar jujur dalam bertaubat kepada Allah, maka hendaknya kita tunjukkan kesungguhan kita dalam bertaubat dengan meninggalkan, membenci, serta menyesali perbuatan maksiat yang kita lakukan. Dengan begitu, mudah-mudahan Allah mencatatnya sebagai taubatan nasuha (taubat yang tulus).
Sumber : mutiaraislam.net

0 comments

Post a Comment