Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan


Mengamalkan ilmu agama dan memberikan keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,
وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud [11]: 88)
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [1]
Dari Ma’mun, beliau mengatakan,
نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال
“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [2]
Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.
Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن
“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [3]
Dalam sebuah hadits disebutkan,
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh.” [4]
Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh. Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.
Padahal, shalat subuh adalah shalat yang paling utama, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ اللهِ صَلَاةُ الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي جَمَاعَةٍ
“Shalat yang paling utama di sisi Allah adalah shalat subuh pada hari jum’at secara berjamaah.” [5]
Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.
Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin, di mana pun mereka berada. [6]
[Selesai]
***
@Bornsesteeg NL 6C1, 17 Ramadhan 1439/ 2 Juni 2018
Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,
Penulis: M. Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.Or.Id

Catatan kaki:
[1] Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 97.
[2] Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236.
[3] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099.
[4] HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651.
[5] HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (7/207). Dinilai shahih oleh Al-ALbani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1566.
[6] Disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 35-39.


Sumber :

https://muslim.or.id/42381-memberikan-keteladanan-dengan-amal-perbuatan.html

Keutamaan Puasa Asyura dan Sejarahnya


Apa saja keutamaan puasa Asyura dan bagaimanakah sejarahnya?

Sejarah Puasa Asyura

‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom[1]. Dia adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam, tak bisa dilupakan.
Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.[2]
Nabi dalam berpuasa ‘Asyura mengalami empat fase[3];
Fase pertama: Beliau berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.
Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”.[4]
Fase kedua: Tatkala beliau datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa ‘Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas di muka. Bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura.
Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhon, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah[5] sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.
Fase keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari A’syuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 A’syuro agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.
Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa A’syuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro!! Maka Rasululloh berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”.[6]

Keutamaan Puasa Asyura

Hari ‘Asyura adalah hari yang mulia, kedudukannya sangat agung. Ada keutamaan yang sangat besar.
Imam al-Izz bin Abdus Salam berkata: “Keutamaan waktu dan tempat ada dua bentuk; Bentuk pertama adalah bersifat duniawi dan bentuk kedua adalah bersifat agama. Keutamaan yang bersifat agama adalah kembali pada kemurahan Allah untuk para hambanya dengan cara melebihkan pahala bagi yang beramal. Seperti keutamaan puasa Ramadhon atas seluruh puasa pada bulan yang lain, demikian pula seperti hari ‘Asyura. Keutamaan ini kembali pada kemurahan dan kebaikan Allah bagi para hambanya di dalam waktu dan tempat tersebut”.[7] Diantara keutamaan puasa ‘Asyura adalah;
 1- Menghapus dosa satu tahun yang lalu
Rasululloh bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.[8]
Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”.[9]
 2- Nabi sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari itu
Ibnu Abbas berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan puasa bulan Ramadhon.[10]
 3- Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Isroil
Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga”.[11]
 4- Puasa ‘Asyura dahulu diwajibkan
Dahulu puasa ‘Asyura diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menujukkan keutamaan puasa ‘Asyura pada awal perkaranya.
Ibnu Umar berkata: “Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”.[12]
 5- Jatuh pada bulan haram
Nabi bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharrom.[13]
Semoga kita diberi kemudahan untuk melaksanakan puasa Asyura. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
[1] Syarah Shahih Muslim 8/12, Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/671, Mukhtashor Shahih Muslim, al-Mundziri hal.163-Tahqiq al-Albani, al-Mughni 4/441, Subulus Salam, as-Shon’ani 2/671
[2] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130
[3] Lathoiful Ma’arif hal.102-107
[4] HR.Bukhari: 2002, Muslim: 1125
[5] Bahkan para ulama telah sepakat bahwa puasa ‘Asyura sekarang hukumnya sunnah tidak wajib. Ijma’at Ibnu Abdil Barr 2/798, Abdullah Mubarak Al Saif, Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani 1/438, Tuhfatul Ahwadzi, Mubarak Fury 3/524, Aunul Ma’bud, Syaroful Haq Azhim Abadi 7/121
[6] HR.Muslim: 1134
[7] Qowaid al-Ahkam, al-‘Izz bin Abdis Salam 1/38, Fadhlu ‘Asyura wa Syahrulloh al-Muharrom, Muhammad as-Sholih hal.3
[8] HR.Muslim: 1162
[9] Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279
[10] HR.Bukhari: 2006, Muslim: 1132
[11] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130
[12] HR.Bukhari: 1892, Muslim: 1126
[13] HR.Muslim: 1163
Penulis: Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman (Penulis Majalah Al Furqon Gresik)
Artikel Muslim.Or.Id


Sumber : www.muslim.or.id

Kisah Abdul Muthalib Temukan Sumur Zamzam Lewat Mimpi


Sebelum menemukan sumur Zamzam, Abdul mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekkah, yang kemudian di tampungnya di wadah air yang ada di sekitar Kabah.

Dream - Sebagai keturunan keluarga besar Qushay bin Kilab, Muthalib mempunyai tanggung jawab besar tentang segala bentuk yang berkaitan dengan Kabah. Termasuk soal penyediaan air minum bagi jamaah yang tengah melaksanakan haji.

Sebelum menemukan sumur Zamzam, Abdul mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekkah, yang kemudian di tampungnya di wadah air yang ada di sekitar Kabah.

Suatu hari Mekkah tengah mengalami paceklik. Masalah ini tentunya membuat Abdul Muthalib bingung. Karena ribuan jamaah haji akan segera datang ke Mekkah. Abdul Muthalaib pun memikirkan seribu cara untuk mendapatkan air.

Abdul Muthalib mengumpulkan para kabilah Quraishy untuk memecahkan permasalahan ini secepatnya. Mereka pun mendiskusikan ini di rumah Abdul Muthalib.

Di tengah perbincangan, mereka teringat akan kabar sumur yang tak pernah habis sepanjang masa. Sumur itu bernama Zamzam. Sayangnya, sumur itu dikabarkan telah berabad-abad hilang dan tak ada yang tahu persis letak lokasi sumur itu berada. .

Namun di tengah kegalauan Abdul Muthalib, mukjizat diturunkan Allah SWT kepadanya. Lewat mimpinya, Abdul Muthalib seolah diarahkan untuk menemukan sumur Zamzam. Dalam mimpinya berkali-kali itu, Abdul Muthalib diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam.

Ibnu Hisyam menyebutkan, " Ketika Abdul Muthalib tidur di Hijir, dia mimpi didatangi seseorang dan disuruh untuk menggali sumur Zamzam." Dalam mimpinya Abdul Muthalib mengaku bertemu dengan sesosok orang yang menyuruhnya segera menggali sumur Zamzam.

" Ketika aku sedang tidur di hijir Ismail, aku mendengar suara, " Galilah Thayyibah (Zamzam)!"

" Apa itu Thayyibah?" tanya Abdul dalam mimpinya. " Tetapi kemudian orang itu pergi dan besoknya ketika tidur, aku kembali mendengar suara yang sama," kata Abdul.

" Galilah Birrah (Zamzam)!" seru sosok itu. " Apa itu Birrah?" tanya Abdul Muthalib.

" Tetapi orang itu kembali pergi. Keesokan harinya, ketika aku tidur aku mendengar lagi suara yang sama," kata Abdullah. " Galilah Al-Madhnunah!" kembali seru sosok itu.

" Kemudian orang itu pergi. Besoknya, ketika aku tidur, orang itu datang lagi dan berkata yang sama," kata Abdul Muthalib.

" Galilah Zamzam?" " Apa itu Zamzam?" " Air yang tidak kering dan tidak meluap, dengannya engkau bisa memberi minum para jamaah haji. Letaknya di bawah timbunan tahi binatang dan darah. Ada di paruh gagak yang tuli, di sarang semut."

Demikianlah mimpi itu menunjukkan kepada Abdul Muthalib letak terkuburnya sumur Zamzam. Adapaun maksud dari " Di antara kotoran darah" adalah airnya mengenyangkan dan menyembuhkan penyakit.

Sementara kata " Sarang semut" mempunyai banyak makna diantaranya, Zamzam sebagai mata air di Mekkah akan dikerumuni orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah dari setiap penjuru laksana semut mengerumuni sarangnya.

(Sumber: Merdeka.com dari buku Sejarah Kabah, kisah rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman)

Negara Arab

Subhanallah, Inilah Alasan Kenapa Harus Puasa Senin Kamis


Puasa senin-kamis adalah puasa yang sering dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW..sebagaimana sabda Rasu-lullah saw dari Abu Hurairah:“
Bahwasaannya Rasulullah saw adalah orang yg palang panyak berpuasa di hari senin-kamis Ketika ditanya alasannya,Rasulullah bersabda: sesungguhnya segala amal perbuatan dipersembahkan pada hari senin dan kamis,maka ALLAH akan mengampuni dosa setiap orang muslim/orang mukmin, Kecuali dua orang yang bermusuhan. Maka ALLAH berfirman:Tangguhkan keduanya.'(HR.Ahmad)

Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk melaksanakan puasa senin-kamis.Disamping Nabi menganjurkan,Nabi sendiri mengerjakannyag. Hal ini dapat terungkap lewat sebuah hadits dari Aisyah binti Abi Bakaq.“Um-mul Mukminin Aisyah berkata:

NABI MUHAMMAD SAW sangat antusias senang melaksanakan puasa senin dan kamis.”(HR.Turmuji,Nasai dan Ibnu Majah) Dihari senin adalah hari kehadiran manusia yang paling sempurna yang diutus oleh ALLAH SWT .

untuk menyampaikanRisalah-NYA,Itulah NABI MUHAMMAD SAW,yang dilahirkan ditengah keluarga Hasyim.Beliau dilahirkan di Makakah pada hari senin pagi tangal 9 RABIUL AWAL,permulaan tahun dari peristiwa Gajah,yakni bertepatan dengan tangal 20 april tahun 571 masehi. Setelah beliau diutus menjadi RASUL,Beliau menjadikan hari senin sebagai hari yang istimewa.Hadits dari Abi Qatadah al-anshariy menyebutkan bahwa RASULULLAH SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari ARAFAH,"NABI menjawab:Puasa itu menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.
Dan Beliau ditanya tentang puasa ASYURA dan menjawab:Puasa itu menghapus dosa tahun yang lalu"Beliau ditanya tentang puasa senin-kamis lalu Beliu menjawab:Pada hari adalah hari dimana AKU Dilahirkan,AKU Dijadikan seorang utusan(RASUL),dan pada hari itu juga aku menerima wahyu."(HR.Muslim) DAN Bagaimana dengan hari kamis,,,,????Kenapa hari kamis menjadi istimewa sehingga kita disunnahkan untuk berpuasa pada hari itu....??? Setiap amal perbuatan yang dilakukan hamba ALLAH akan dilaporkan oleh malaikat pen-catat amal.sekecil apapun amal kebaikan yang dilakukannya ALLAH akan memberikan Ganjaran yang berlipat ganda.Begitu juga,sekecil apapunamal kejelekan yang dilakukan oleh seseorang maka ALLAH tidak segan-segan memberikanbalasan yang setimpal, .."Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat ZARAH pun,niscaya ia melihat?(balasan)DAN barang siapa mengerjakan kejahatan seberat ZARAH pun,niscaya ia akan melihat(balasan)pula"(QS.al_Zalzalah:7-8) DIsamping itu,puasa pada hari senin-kamis puasa yang sangat istimewa karena pada hari itu dibukakanya pintu surga.
sebagaimana sabda RASULULLAH SAW: Pintu-pintu disurga dibuka pada hari senin dan kamisMaka pada hari itu akan diampuni setiap hanba yang tidak mempersekutukan ALLAH dengan sesuatu apapun.kecuali orangyang diantara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan.Lalu dikatakan:.."LIHATLAH kedua orang itu hingga mereka berdamai."(HR.Muslim,Abu Daud dan an-Nasai)PINTU-PINTU surga dibuka pada hari senin dan kamis menjadi anugrah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Orang-orang yang melaksanakanamal shaleh pada hari itu akan menjadi lebih dekat dengan surga.
DAN INILAH KEISTIMEWAAN NYA..
① Dijamin masuk surga:
ALLAH SWT..menyediakan surga untuk hambanya yg beriman,bertakwa,dan beramal sholeh.disanalah mereka akan abadi dgan kenikmatan yang ALLAH sediakan.karena itu ,tidak ada tempaj yang paling baik dan indah secgai tempat kembali diakhirat kecuali surga.
Surga penuh kenikmatan itu diciptakan secgai ganjaran atas jerih payah hamcnya yg beqtakwa...
Dan orang-orang beriman yang mengerjakan amal sholeh,sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi didalam surga.yg mengalir sungai-sungai dibawahnya.mereka kekal didalamnya.itukah sebaik-baiknya pembalasan bagi orang yang beramal.” (QS.al-ankabut:58)
②Terhindar dari siksa Api neraka..
Rasulullah saw bersabda tidakkah seorang hamba berpuasa satu hari dijalan ALLAH,melainkan ALLAH menjauhkan wajahnya degan hari itu dari neraka selama 70 tahun.(HR:Bukhari dan muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah menjelaskan bahwa orang perpuasa dijalan ALLAH,akan dijauhkan dari neraka jahannam sejauh seratus tahun.”Barang siapa berpuasa sav hari dijalan ALLAH,maka ALLAH akan menjauhkan dirinya neraka jahannam sejauh perjalanan seratus tahun.”(Silsilah Ash-Shihah:6/2565)
③ Menjadi penolong pada hari kiamat
...”Pada hari itu manusia bagaikan kupu-kupu yang berterbangan.Dan gunung-gunung seperti bulu-bulu dihamburkan.(QS:AL-Qariyah:4-5)dalam ayat lain
..”Apabila sangkakala ditiup,maka tidak ada lagi pertalian keluarga diantara mereka pada hari itu (hari kiamat) dan tidak(pula) mereka saling bertanya.”(QS:AL-Mukminun :101)
Diantara amal shaleh yang sangat ditekankan oleh Rasululkah adalah puasa dan tilawatul Quran.sebab,dua amal shaleh tersebut akan menjadi syafaat pada hari kiamat bagi orang yg melaksanakannya.sebagaimana sabda Rasulullah:’Puasa dan Al-Quran akan memberi Syafaat(pertolongan)bagi hamba pada hari kiamat.puasa berkata:ya ALLAH ,aku mencegahnya dari makan dan memuaskan syahwat pada siang haqi maka jadikanlah aku sebagai penolongnya.’Maka syafaat kfuanya diterima ALLAH.”(HR.Ahmad)
④Menanamkan kedekatan diri pada ALLAH
Setiap amaliah wajib memiliki amaliah sunnah yg menyempurnakan kekuranganya.shalat lima waktu misalnya,memiliki shalat"sunnah,seperti Tahajud,dhuha,rawatib,dan lain". Puasa ketakwaan ,serta kesabaran mengendalikan nafsu,semuanya bermuara pada hati.maka,besuasa senin -kamis berarti menyambv sebuah pengembaraan penting bagi setiap hati.menuku kesuciannya dan menuju ridha sang Rahman,pencipta tiap-tiap hati.
⑤Mempercepaterkabulnya Doa Doa dianjurkan pada setiap sbt dan setiap waktu.ALLAH telah memerintahkan hambanya untuk berdoa kepada-NYA.”Tuhanmu berkata,mintalah ke-pada-KU,niscaya Aku kcukkan.”(QS.Ghafir:60)
.”Bagi mereka sendirilah amal yang dikerjakan anak cucu adam,kecuali puasa.sesungguhnya puasa itu untuk-KU.Dan Aku sendirilah yang akan memberi balasanya.”(Hadis Qudsi,riwayat Abu Hurai-rah)
Oleh karena itu kita masih diberi umur mari kita memperbanyak amal shaleh untuak bekal pada hari akhir.
Semoga bermaanfaat bg yg mau baca...
Akhiru kalam wassalamualaikum wr wb,

Al-Qur’an, Harta Tertinggi dari Segala Hal



Al-Qur’an, Harta Tertinggi dari Segala Hal
Oleh : ANDRE RAHMATULLAH, freelance writer dan aktif menggeluti kajian media.
”Sesungguhya Al-Quran ini menunjuki ke jalan yang paling lurus, dan memberikan kabar gembira orang orang beriman yang beramal shaleh bahwasanya bagi mereka pahala yang besar” (Q.S 17: 9)
Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang sangat luar biasa, tiada tandingan yang dapat menandinginya bahkan jika seluruh manusia dan bangsa jin bersekutu untuk menandingi Al-Qur’an maka mereka tidak akan pernah bisa sebagaimana firmanNya:
“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S 17:88)
Allah Subhanahu Wa Ta’aala meurunkan Al-Qur’an kepada Nabi ummat seluruh manusia yaitu Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wa sallam melalui malaikan Jibril sacara berangsur-angsur sebagaimana firmanya :
“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S 17:106)
Guna untuk memudahkan umat manusia dalam memahaminya, mentadaburinya, membacanya, menghafalkannya serta mengamalkannya. Kalam yang merupakan pedoman hidup manusia bagi mereka yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat serta selamat dari kesesatan yang tiada ada ujungnya.
Sungguh dampak yang sangat luar biasa ketika seseorang menjatuhkan pilihanya untuk mempelajari Al-Qur’an serta mengorbankan dirinya untuk menanamkan Al-Qur’an dalam dadanya, kemulian demi kemulian sirih berganti mendatanginya.
Ketika seseorang menjatuhkan dirinya ke dalam air, maka dampak yang ia terima adalah basah dikarnakan air besifat membasahi yang mengenainya, tidak jauh berbeda ketika seseorang menghafalkan Al-Qur’an maka dampak yang ia terima adalah kemulian, karena Al-Qur’an adalah mulia maka barang siapa yang mendapatkanya maka ia akan menjadi mulia. Adapun sebaliknya barang siapa yang menjauhkan dirinya dari Al-Qur’an maka kehinaan yang ia peroleh.
“Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan yang lainnya”
Siapakah yang tidak menginginkan hidup mulia? Allah Subhanahu Wa Ta’aala memberikan kita pilihan guna memberikan kesempatkan kepada kita untuk mengambil yang terbaik, karena orang yang cerdas adalah orang yang mengambil yang terbaik dari sekian yang baik-baik.
Al-Qur’an sebuah tujuan yang harus kita ambil dan kita miliki, dengan cara membacanya, menghafalkanya serta mengamalkanya. Beruntung bagi mereka yang menghafalkan Al-Qur’an, karena Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah menyiapkan begitu banyak hadiah serta kemulian kepada para Penghafal Al-Qur’an baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber : panjimas.com

Bersedekahlah kepada Orang yang Meminta dan Tidak Meminta


CATATAN ANAK SHOLEH  – Dalam Al Qur’an, shalat dan zakat tak bisa dipisahkan. Seorang muslim yang rajin shalat, namun tak pernah peduli dengan kaum dhuafa, yatim piatu, kerabat dekat dan lingkungan sekitarnya, maka tiadalah guna keimannya itu.
Shalat dan menginfakkan rezekinya kepada mereka yang berhak adalah tanda ketakwaan. Dan menjadi pintu diturunkannya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. “Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Rasul supaya kamu diberi rahmat”. (QS. An-Nuur: 56).
Di ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.”(QS. Adz Dzaariyaat: 19)
Inilah jaminan Allah terhadap orang menyisihkan rezekinya kepada kaum fakir miskin. “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki mapun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al Hadid: 18)
Janganlah mengira orang yang memberikan sedekah membuat seseorang menjadi miskin. “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul?…”(QS. Al Mujaadilah: 13)
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjarab) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261)
Diayat yang lain, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)
“Hendaklah orang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Kelak Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Thalaaq: 7)
Orang yang tidak peduli dengan kaum dhuafa, Allah mengancamnya dengan azab yang pedih. “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyaka. Kemudian, beliatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.” (QS. Al Haaqqah: 30-34).
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw seraya bertanya: “Wahai Rasulullah! Sedekah seperti apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau lalu menjawab, “Kamu bersedekah dalam kondisi sehat dan kikir, takut miskin dan mengangankan kekayaan. Janganlah kamu menyepelekan, hingga ketika nyawa sudah berada di kerongkongan, kamu baru mengatakan, “bagi si fulan bagiannya segini dan segitu”, padahal harta tersebut sudah milik orang lain. (HR. Bukhari-Muslim) (ass)
Sumber : panjimas.com

Hampir Separuh Warga Yahudi-Israel Nilai Palestina Layak Merdeka


TEL AVIV, CATATAN ANAK SHOLEH  — Hampir separuh warga Yahudi-Israel yakni sekitar 47 persen berpendapat bahwa rakyat Palestina layak mendapatkan hak kemerdekaan. Hal ini terungkap dalam laporan bulanan ‘Peace Index’, Lembaga Demokrasi Israel dan Tel Aviv University yang diterbitkan, Selasa (04/09).
Di antara warga Israel-Arab, 73 persen mendukung kesepakatan semacam itu. Sebaliknya, 56 persen warga Yahudi dan Arab-Israel meyakini, menurut survei tersebut, jika kesepakatan perdamaian ditandatangani dengan dasar penyelesaian dua-negara, itu tak mungkin dilaksanakan.
Ulasan mengenai sampel orang Yahudi berdasarkan usia menunjukkan bahwa dukungan bagi negara Palestina meningkat berkaitan dengan usia. Pada mereka yang berusia 18-34 tahun, hanya sedikit (35 persen) mendukung hak rakyat Palestina untuk memiliki negara, 54 persen orang yang berusia 35-54 tahun mendukungnya, dan pada kelompok usia yang lebih tua, mayoritas 62 persen mendukungnya, demikian menurut laporan Xinhua News.
Warga Arab-Israel berpendapat secara bulat (94 persen) bahwa rakyat Palestina berhak merdeka.
Selain itu, 83 persen warga Yahudi-Israel berpendapat bahwa “orang Palestina harus mengakui Israel sebagai negara-bangsa Yahudi sebelum pembicaraan perdamaian dengan mereka dapat dihidupkan kembali”. Sementara itu, 72 persen warga Arab-Israel menentang tuntutan itu.
Menurut data tersebut, 66 persen warga Yahudi-Israel sepakat bahwa “kebanyakan warga Palestina telah setuju dengan kehadiran Israel dan ingin menghancurkannya, kalau mereka bisa”.[IZ]
Sumber : panjimas.com

WAQAF SHODAQOH JARIYAH MILIK UTSMAN BIN AFFAN RA DI MADINAH


CATATAN ANAK SHOLEH - Waqaf ini berupa bangunan hotel yang disewakan..
Apakah Anda tahu kalau sahabat nabi khalifah Utsman bin Affan adalah seorang  pebisnis yang kaya raya, namun mempunyai sifat murah hati dan dermawan. Dan ternyata beliau radhiallahu ‘anhu sampai saat ini memiliki rekening di salah satu bank di Saudi, bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau.

Bagaimana ceritanya sehingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??

Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Mekah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zam-zam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.

Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
 Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.

“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.
“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.

“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.

Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.

Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.


Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
 Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar, setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.

Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun. Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi..

Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..

Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.

Like dan sebarkan, agar manfaat dari informasi ini tidak hanya berhenti pada anda, tapi juga bisa dirasakan oleh orang lain, sekaligus merangkai jaring pahala

Oleh : Ustadz Shalahuddin AR Daeng Nya’la (Diedit dengan penyesuaian bahasa oleh tim KisahMuslim.com) ( Wallohu A'lam Bishshowab )

Menteri Agama Minta Polisi Jamin Keamanan Ustaz Somad


CATATAN ANAK SHOLEH – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyoroti intimidasi terhadap safari dakwah Ustaz Abdul Somad alias UAS oleh sekelompok oknum. Menurutnya, aparat penegak hukum harus bisa melindungi penceramah, termasuk UAS dari ancaman-ancaman yang tidak bertanggungjawab. Intimidasi terhadap UAS dan panitia yang mendatangkan UAS di daerah-daerah tidak hanya terjadi kali ini saja.
“Saya berharap aparat penegak hukum atau jajaran kepolisian bisa melindungi siapapun penceramah agama untuk berdakwah di wilayah manapun di negeri ini. Sejauh isi ceramahnya dalam rangka mendidik dan mencerahkan wawasan umat,” tegas Lukman dalam pesan singkatnya yang diterima Republika.co.id, Senin (3/9).
Maka dengan demikian, kata Lukman, jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepada UAS dan kepada semua pemuka dan penceramah agama haruslah terus terjaga dan terpelihara. Karena, bagi dirinya, umat beragama, tidak terkecuali dengan Umat Islam memerlukan siraman rohani atau ceramah dari pemuka agama untuk memberikan pencerahan dan pengalaman keagamaan.
“Umat beragama amat memerlukan siraman rohani yang mencerahkan dan mengedukasi pemahaman dan pengamalan keagamaan dari para penceramah agama, agar bangsa kita tetap menjadi bangsa yang agamis,” tambahnya.
Sebelumnya, UAS menyampaikan ada ancaman dan intimidasi di sejumlah daerah untuk acara tausiyah. Karena itu ia memilih untuk membatalkan beberapa janji untuk memberikan ceramahnya. Hal ini diungkapkan UAS dalam akun instagramnya. “Beberapa ancamam, intimidasi, pembatalan dan lain-lain terhadap tausiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara dan Semarang,” tulis UAS.
Menurut UAS, intimidasi dari pihak yang tak bertanggungjawab itu membuat beban panitia semakin berat dan memengaruhi kondisi psikologis jemaah dan dirinya sendiri. Sebenarnya, pada September UAS memiliki jadwal ceramah di di Malang, Solo, Boyolali, Jombang dan Kediri. Kemudian di bulan Oktober ia dijadwalkan berceramah di Yogyakarta dan bulan Desember di Jawa Timur. “Maka saya membatalkan beberapa janji di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta,” terang UAS.  [rol]
Sumber: eramuslim.com

Mahfud MD: Gerakan #2019GantiPresiden Bagian Dari Demokrasi


Catatan Anak Sholeh – Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD menilai jika maraknya deklarasi tagar 2019 ganti presiden merupakan bagian dari demokrasi. Namun, hal itu harus tetap diawasi oleh aparat penegak hukum.
“Soal tagar itu, tergantung kita menyikapinya. Berharap aparat penegak hukum, aparat keamanan bersikap profesional dan adil. Mana yang melanggar hukum untuk ditindak, mana yang tidak melanggar hukum ya dibiarin aja, itu bagian dari demokrasi,” ujarnya saat berkunjung ke Malang, Senin (3/9).
Dia mengatakan, deklarasi tagar 2019 ganti presiden, menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) belum ada di kampanye. “Sehingga sekarang itu aspirasinya belum terkait dengan kampanye sebenarnya. Tetapi tetap secara hukum harus diawasi oleh aparat penegak hukum,” imbuh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.
Menurutnya, deklarasi itu sah-sah saja. Tergantung bagaimana mengemasnya. “Kan kadang ada yang disertai dan disusupi kekerasan, ada yang disusupi oleh sikap-sikap destruktif terhadap konstitusi,” jelasnya.
Dia menyampaikan, dalam momen Pemilihan Presiden (Pilpres), setiap orang berhak mengajukan aspirasi baik itu berkelompok atau tidak, namun harus dalam batas konstitusional. “Artinya tidak boleh ada kekerasan, pemilu ini harus dilaksanakan sebagai hak-hak konstitusional,” pungkasnya. [jpc]

Sumber : eramuslim.com

Kategori

Kategori